Indonesia Jakarta

[Photo Story] Sepuluh Juta Pendar Warna Jakarta

Pagi tak pernah lalai membangunkan Sepuluh Juta Pendar, yang terlelap di sudut-sudut Bandar; tempat yang empat abad lalu akrab disapa Sunda Kelapa. Tanpa alpa. Tanpa pernah lupa.

Di bawah langit yang sama, Pendar-pendar itu tersebar. Tadi malam, sebagian lelap dalam bangunan gemerlap. Sebagian lainnya, menggigil di sela bilik-bilik kardus tak berjendela. Pulas mengangkangi lapar dan dahaga.

Perlahan, sinar menyusupi tirai-tirai kamar. Menyeru seluruh Pendar agar lekas berbinar: Memulai hari. Mengejar obsesi diri. Menggali kesempatan. Memastikan ada sesuatu untuk dimakan.

Pendar-pendar dalam Warna Berbeda lantas bersiap. Belum jam delapan, tapi sudah banyak yang mereka pikirkan. Tunggakan kontrakan. Susu anak. Semua hal-hal tak enak. Yang coba dilupakan dengan menyesap tembakau. Yang coba disumpal dengan semangkuk kacang hijau. Dalam warung-warung sempit di tepian kali, sesaat sebelum berhamburan di muka bumi.

Di satu perempatan, Pendar-pendar Merah berhenti. Telinga mereka disesaki raungan nyaring kereta besi. Tapi tak satupun yang peduli. Motivasi yang membuat tuli sudah menyumpali kuping kanan dan kiri: Harus ada Rupiah untuk hari ini!

Motivasi sama yang membuat semangat menggebu. Meski bermenit-menit berdiri menunggu, sekadar untuk menyesak dalam kereta yang menderu. Melaju nyaris tanpa jarak dari rumah-rumah bisu, yang kamar tidurnya menyatu dengan ruang tamu.

Lain cerita Pendar-pendar Jingga. Hari-harinya diikhlaskan untuk siaga. Menyiapkan makan siang untuk keluarga, antar jemput anak termuda ke sekolahnya, atau menaik-turunkan palang kereta. Mulia yang semata berharap balas surga.

Siang datang membabi-buta. Pendar-pendar Kuning masih berdempetan di dalam kereta. Tentu dengan masker yang menghambat aroma tak disuka. Awalnya menatap saling curiga, penuh prasangka. Lama-lama, satu gerbong hafal muka, lalu mulai terasa seperti keluarga.

Di lain tempat, Pendar-pendar Hijau berusia belia sibuk melambungkan angan dan cita. Mereka tak punya apa-apa. Di kepala hanya ada bahagia, kepolosan manja, khayalan liar tanpa cela, serta belaian hangat orangtua.

Pendar-pendar Biru lain lagi. Dalam keriuhan hari, di dunia yang mengutamakan materi, mereka menyempatkan diri mengingat Ilahi. Menciptakan ruang sepi, lalu bermunajat pada Sang Pembolak-balik Hati.

Hari gembira dijalani Pendar-pendar Nila. Semangat sekali mereka bekerja. Sesekali bercanda ria, dalam ruang berpendingin udara, di menara-menara raksasa dengan ratusan anak tangga. Tak lupa, meneguk secangkir kopi, sambil sesekali mengunggah foto selfie.

Ada juga Pendar-pendar Emas, yang keluar masuk butik mahal tanpa cemas. Pusat-pusat belanja jadi rumah kedua mereka. Tempat tawaf dan berburu barang-barang mahal nan langka.

Sementara, tersuruk di bawah hutan menara, Pendar-pendar Ungu menatap hampa dari balik jendela hotelnya. Hiruk kota tak membuatnya bahagia. Tak sabar rasanya mengemas barang, lalu memesan taksi ke Tangerang. Terbang pulang, kembali ke rumah kecil yang tenang di pulau seberang.

Tentu tak semua menghabiskan siang dengan nyaman. Pendar-pendar Putih misalnya. Harus mengayunkan tangan, berkotor-kotor menggali tanah jalanan. Sesekali dihardik atasan, ditimpali klakson motor yang melintas beriringan.

Atau Pendar-pendar Coklat. Berkelana mendorong gerobak dan tenggelam dalam keringat. Berulang-ulang mencelupkan gorengan dalam kuali minyak hitam pekat. Meramu olahan nikmat yang ramai peminat.

Jika bisa bersuara, Pendar-pendar Warna yang merasa sengsara tentu akan menagih hak setara untuk sejahtera. Tapi tak semua cita-cita bisa mewujud nyata. Pendar-pendar itu mengalah, rela bersusah payah, semata agar anak-anak di rumah bisa tetap tertawa dan berkata, “Kami beruntung jadi anakmu, Ayahanda!”

Lalu dalam rapal malamnya, Pendar-pendar sengsara tadi berdoa, agar buah hati mereka tumbuh bestari. Tak membesar jadi insan yang keras hati dan tak berempati. Layaknya Pendar-pendar Hitam yang kuasa membeli mobil pribadi, tapi lupa memodali garasi sendiri.

Sore menjelang. Langit mulai belang. Lantunan Ayat Suci sayup-sayup berkumandang.

Lampu-lampu perlahan menyala dalam terowongan gelap, yang tiap sisinya penuh lukisan berkilap.

Pendar-pendar berparas lelah beringsut pulang. Wangi parfum tadi pagi sudah pula hilang. Berganti perkara-perkara pelik yang berputar di kepala, yang coba didorong keluar dengan pemutar musik menyala.

Malam datang. Tak ada ruas jalan yang tak penuh. Disesaki Pendar-pendar yang jenuh. Berebut kembali ke oase kecil masing-masing, yang terpaksa ditinggal sejak fajar menyingsing.

Kereta malam perlahan sepi. Pendar-pendar Berjuta Warna menyempatkan diri bercengkerama. Dengan mereka yang dicinta, nun jauh di sana. Yang hanya bisa disapa dari kotak kecil bercahaya.

Di penghujung hari itu, Jutaan Pendar Penuh Warna letih mengembara. Menapaki gontai satu demi satu anak tangga. Entah kenapa, jalan pulang lama sekali terlihat ujungnya.

Meski malam sudah sepenuhnya tiba, Pendar-pendar Perak masih saja harus bekerja. Berkubang peluh  mencari nafkah, menyusun bata dan menempa baja, di proyek-proyek pembangunan di tengah kota.

Seperti halnya Pendar-pendar Kelabu. Malam adalah siangnya mereka. Memetik gitar menyisir tenda demi tenda. Dalam kostum ondel-ondel yang tak lagi dikenali warnanya. Diselingi alunan yang memekakkan, menyorongkan ember mengharap dua ribuan.

Jakarta memang tak mengenal malam. Denyutnya berlanjut, meski kelam sudah menyelubungi alam.

Dihujani kerlip lampu, Ribuan Pendar lainnya masih terjebak di jalan-jalan berdebu. Bersusun berkendara. Terdiam dalam kesunyian, menghabiskan dua jam di kursi nyaman, sambil berteman dengan nyanyian.

Lalu lewat dini hari, denyut kota mulai melambat, berganti sepi. Seiring Pendar-pendar Warna yang semakin senyap terbuai mimpi.

Kisah yang sama terulang setiap hari. Sepuluh Juta Pendar Warna datang dan pergi. Menyicip madu Ibukota sambil sesekali mengobati lara hati. Meski banyak yang terkapar dan tak kembali lagi, Jutaan Pendar Warna lain akan selalu siap mengganti. Masih dengan tujuan sama: Menemukan bahagia di Jakarta, dalam cara sendiri-sendiri.

21 comments

  1. Postingan ini menurut saya brilian sekali! Saya selalu suka dengan rangkaian kata-kata yang menjadi kalimat dengan ujung yang berima, namun tetap penuh arti, bukan sekedar memaksakan ujung tiap penggalan kalimat terdengar sama. Jakarta memang kota yang bisa digambarkan dengan banyak sekali cara, salah satunya seperti ini. Baca ini jadi bikin saya kangen eksplor sudut-sudut ibukota.

    Liked by 1 person

    1. Makasih banyak apresiasinya, Mas Bama. Saya juga senang menikmati rangkaian kalimat yang ada rimanya, kaya ada semacam nyanyiannya gitu ya.

      Jakarta memang paradoks yang menarik. Tak bisa sepenuhnya dibenci, tapi juga tak bisa seutuhnya dicinta. Semacam nyebelin tapi ngangenin hahaha.

      Semoga setelah pandemi kelar bisa eksplor sudut-sudut Jakarta lagi, Mas. Banyak banget objek tak biasa yang menarik mata.

      Liked by 1 person

  2. What a beautiful photo story of Jakarta. Mas ini postingan yang sangat keren. Setiap gambar bercerita, meski dengan tema hitam putih, tapi representasi masing masing warna tergambarkan dengan jelas dan cemerlang. Saya izin share ya mas, ini foto dan ceritanya sangat kohesif. Kereeen

    Liked by 1 person

    1. Thank you, Mas Suaib! It makes my day to hear that. Gracias! 🙂

      Fotonya memang sengaja saya bikin hitam-putih, Mas, buat menggambarkan bahwa setiap pendar sejatinya adalah sama-sama manusia. Sementara foto terakhir (yang merekam kelap-kelip aneka warna) sengaja saya biarkan berwarna untuk menegaskan bahwa meski sama-sama manusia, ternyata masing-masing kita punya ‘warna’ a.k.a nasib dan jalan hidup berbeda saat bertualang di Ibukota.

      Monggo, Mas, silakan. Really appreciate that. Makasi banyak sekali lagi, hehe.

      Like

  3. Cuma satu kata buat foto-fotonya: sukaaaaaaaa 😀
    puisinya juga bagus bang

    Yg rumah susun itu nampak familiar. Apa yang di Klender ya bang? Suka nongol di sinetron-sinetron dan satu film horor nasional. Suka terngiang ondel-ondel keliling kalo di Jakarta, gak ada di tempat lain

    Seribu satu macam profesi ada di Jakarta, kota yang tak pernah tidur

    Liked by 1 person

    1. Makasi banyak Mas. Semoga foto-foto dan narasinya cukup bisa menggambarkan Jakarta dari sisi berbeda hehe.

      Kalau kemaren itu saya fotonya iseng dari rumah susun Karet, Mas. Ngendap-ngendap aja gitu masuk buat foto, haha. Kalau yang sering dipake untuk syuting film dan sinetron itu seingat saya Rusun Benhil, Bentuknya sama persis kaya yang di karet ini sih, tipikal gitu. Kalau yang diklender setau saya sudah direnovasi. Dindingnya udah diplester dan dicat ulang, jadi bentuknya sudah lebih rapi.

      Bener banget, Jakarta ga kenal jam tidur kayanya hehe.

      Liked by 1 person

  4. Aku menikmati suguhan street photography yang ciamik, sengaja dibuat black n white ya biar dramatis gitu ehehe. Jakarta, ibu kota yang membuat saya kurang nyaman. Baru beberapa jam mendarat, sudah pengen balik hehehe. Macetnya ituloh bikin senewen.

    Liked by 1 person

    1. Hehe iya Mas. Disengaja item-putih kecuali di foto terakhir. Kalau di foto terakhir, karena jadi penutup, memang fokusnya pada warna-warni yang ngegambarin pendar-pendar (alias penduduk) Jakarta itu.

      Haha iya, kalau soal macetnya Jakarta masih juara sih ya di negara kita. Apalagi jumat sore di jam-jam pulang kerja, itu udah kaya apaan macetnya :))

      Like

  5. Ide menampilkan foto dengan narasi yang cemerlang. Setipe dengan postingan “Postcard from….” yang sempat hits beberapa tahun lalu dan baru kutemui lagi di postingan ini. Merangkai kata-nya PR banget, tapi memang sekece itu.

    Liked by 1 person

  6. Syahdu sekali, Mas Ikhwan. Postingan ini bikin saya ingat bagian pembuka serial Midnight Diner yang diiringi lagu folk Tsunekichi Suzuki. Kayaknya nanti bakal tak coba baca lagi pakai OST Midnight Diner. 😀

    Liked by 1 person

  7. Bakalan buka postingan ini kalau pas kangen Jakarta, Wan. Saya setiap hari menghabiskan waktu di Jakarta dan melihat pemandangan ini tiap hari, ternyata bisa dikemas cakep banget sama kamu. Bagus! Terus penjelasannya kirain bakalan kayak puisi atau kalimat-kalimat yg saya gak ngerti, ternyata malah manis banget. Cocok sama foto hitam putihnya!

    Liked by 1 person

    1. Hehehe, makasi banyak, Mba Justin. Kadang karena sehari-hari kita ngeliatin pemandangan beginian, jadinya udah kaya biasa aja. Tapi ternyata begitu kita sempatkan waktu buat mengamati ulang, baru dah kerasa kalau Jakarta ini memang punya sisi pahit getirnya sendiri. Malesin tapi juga ngangenin hehe.

      Makasi banyak, Mba. Semoga bisa jadi obat kalau sewaktu-waktu kangen Jakarta ya hehe.

      Like

  8. foto hitam putih menggambarkan perjuangan-perjuangan melewati hari dari para pejuang di belantara Jakarta, ditutup dengan pendar warna warni ketika semua terlelap masuk ke alam mimpi yang indah dan membuai, menyisakan senyum di pagi hari, namun sesaat kemudian harus kembali bergulat dengan kejamnya ibukota 🙂

    Liked by 1 person

    1. Hehe, bener banget, Kang. Jakarta memang kota yang sangat terang benderang disparitas antar kelas warganya. Tapi pada akhirnya semua jadi berkontribusi membentuk warna-warna Jakarta itu sendiri; menjadi kota yang disuka tapi sekaligus juga dibenci hehe.

      Like

Leave a Reply to bara anggara Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: