Eropa Kroasia

Segara Biru Kroasia yang Nyaris Merenggut Usia

Seketika semua gelap.

Tangan saya menggelepar, seperti tubuh ikan yang tercampak ke daratan. Keduanya menggelinjang, mencoba menggapai apa saja untuk dipegang. Sepenuh-penuh asa. Sekuat-kuat tenaga.

Percuma.

Tak ada apa-apa yang bisa digenggam. Kaki kanan yang diharapkan membantu, ternyata malah membatu.

Ia kram.

Seiring jasad yang menjauhi permukaan, gelembung-gelembung udara transparan muncul riuh berdesakan.

Air laut lambat-lambat memenuhi mulut. Menyesak menampar-nampar mata, lalu mengujung ke pangkal hidung. Perihnya terasa hingga sela kepala.

Hawa dingin perlahan mencangkum badan. Bermula dari kaki, lalu menjalar ke pinggang. Merambati kedua tangan, merangkul leher, kemudian beringsut ke atas.

Lalu pelan-pelan, teramat perlahan, tubuh saya menyerah.

Saya tenggelam.

Laut

Senja di Pantai Banje, Dubrovnik, Kroasia, hari itu, nyaris jadi saat terakhir saya menapaki dunia. Namun, Sutradara Besar sepertinya punya rencana berbeda. Saya, di penghujung hari itu, dilimpahi kesempatan kedua.

Selisih sembilan jam sebelumnya, saya dan dua orang teman mendarat di Dubrovnik, sebuah kota pelabuhan yang tak terlalu besar di tenggara Kroasia. Jika ditilik pada peta, Dubrovnik berada jauh di selatan Zagreb, ibukota negara.

Selamat Datang di Dubrovnik

Saat itu musim panas. Orang-orang berlalu-lalang dengan kacamata hitam dan pakaian berwarna terang, sementara matahari bersinar tak kalah benderang. Lautan yang melingkupi sebagian besar kota mengaliduakan suhu udara berikut kelembaban yang menyertainya. Gerah.

Dubrovnik di Musim Panas

Setahu saya tak banyak kota pesisir yang menyerupai Dubrovnik. Terlalu banyak bangunan beratap genteng jingga serta benteng tua berdinding batu di sini. Tembok berusia delapan abad yang mengelilingi kota tuanya mengukuhkan titik tersebut sebagai inti pusaran aktivitas wisata.

Bangunan-bangunan Tua Berdinding Batu

Dubrovnik belakangan menjulang ke urutan atas tujuan wisata utama Eropa karena kesuksesan serial televisi Game of Thrones. Kota ini memang menjadi salah satu lokasi syuting utama tayangan tersebut. King’s Landing, Ibukota Tujuh Kerajaan yang diceritakan sebagai kota pelabuhan dengan benteng-benteng, jalanan berlapis batu, serta menara-menara yang ditingkahi kicau burung camar laut, direfleksikan sempurna di dunia nyata oleh kota ini.

Kota Tua Dubrovnik yang Dikelilingi Tembok Batu
King’s Landing

Hari itu, Dubrovnik sedang jelita. Membuat semangat untuk menelisik tiap sudut dan kelokannya kian menggelora. Dan itulah yang kemudian kami lakukan. Naik turun tangga, melintasi jalanan dan lorong-lorong tua sempit yang menanjak di beberapa tempat.

Lorong-lorong Menanjak
Sudut Lain Dubrovnik
Dubrovnik yang Dikitari Laut

Terlalu bersemangat, sayangnya.

Orang bilang, anggota tubuh seringkali dikontrol pikiran. Sepertinya benar demikian. Berkeliling kota elok ini selama berjam-jam sama sekali tak terasa melelahkan. Penat tak juga menggelayuti kaki dan betis, bila hati dan pikiran telah lebih dulu terhipnotis. Kecantikan Dubrovnik pelan-pelan menyilaukan, membuat saya tak hirau pada tubuh yang sejatinya mulai letih.

Langkah kaki kemudian membawa kami ke Pantai Banje.

Saya lirik jam di tangan kiri. Hampir pukul tujuh.

Tak ada yang istimewa di sana. Pantai-pantai di selatan Jawa jauh lebih apik dari Banje. Tak perlu dibandingkan dengan pantai-pantai perawan di timur nusantara. Disparitasnya terlalu kentara.

Papan Nama Pantai Banje

Tapi Dubrovnik sepertinya berhasil mengemas dan menjual pantai ini. Di kanan dan kiri pantai yang tak terlalu luas ini bersanding hotel-hotel dan penginapan dengan arsitektur yang bersinergi dengan bangunan tua yang terlebih dahulu ada.

Kursi-kursi dan tempat tidur untuk  berbaring menikmati limpahan terik di musim panas berjejeran di garis depan. Pelancong dari negara empat musim memang menikmati sekali melayur kulit di bawah mentari.

Pantai Banje Berlatar Kota Tua

Beberapa kapal kecil berseliweran. Sebagian tak bermesin, terombang-ambing terbawa arus dan terdorong angin. Sisanya sengaja diam, memberi kesempatan penumpangnya untuk duduk-duduk di geladak menanti malam.

Meskipun matahari mulai tergelincir, pantai masih saja dipenuhi orang-orang yang sibuk melangsir. Itu pula mungkin sebabnya ada cukup banyak sampah plastik terserak di atas pasir.

Segara Kroasia seharian itu biru. Padu dengan langit musim panas yang terang lebih lama. Sedikit kelabu menjelang sore, tetapi cakrawala cukup cemerlang untuk ukuran jam tujuh petang. 

Tak banyak ombak. Hanya sesekali gerakannya menghujam pelan pasir pantai yang berwarna coklat terang.

Awalnya kami duduk saja di pantai, berharap bisa menikmati matahari terbenam. Tapi ternyata pantainya tak mengarah ke barat, sehingga tenggelamnya matahari tak terlalu terlihat.

Menyaksikan beberapa pengunjung yang asyik  berenang, saya terpicu ingin pula bersenang-senang. Tak ada larangan berenang di sana. Namun, ada bola-bola apung yang sepertinya menunjukkan batas kedalaman.

Pantai yang Ga Bersih-bersih Amat

Saya beranjak, menepi ke kawasan yang agak sepi, lalu perlahan melangkah masuk ke air.

Hangat. Matahari sudah tak kelihatan, tapi sisa panasnya ternyata bertahan di air permukaan. Terasa nyaman saat sebagian badan mulai terendam.

Saya putuskan berenang. Meluncur dalam air suam, pada suatu senja yang nyaman, di kota cantik yang menawan. Gemericik air mengalun di telinga.

Terlalu sempurna.

Senja di Banje

Sebentar, bukankah tiada yang sempurna di atas dunia?

Benar saja. Tak berselang lama, jalan cerita berbalik ke arah berbeda.

Saya tak terlalu mahir berenang. Sebatas bisa. Dengan ombak Pantai Benje yang terlihat tenang dan airnya yang nyaman, saya cukup yakin bisa menjelajah beberapa meter lagi ke depan.

Saya tak ingat berapa meter sudah saya menjauh dari batas pesisir. Sepuluh? Lima belas? Entahlah, sepertinya tak terlalu jauh.

Sayangnya, saya tak cukup peka. Selepas berjalan kaki seharian, tungkai seharusnya diistirahatkan. Bukan dipaksa berenang yang bahkan tanpa pemanasan.

Lautan Tenang

Lalu terjadilah.

Tubuh masih melaju, saat tiba-tiba saja kaki kanan terasa berat. Awalnya tak terlalu mengganggu. Saya pun abai. Tapi kemudian, ia tak bisa dikendalikan. Tak bisa digerakkan, sekalipun berkali-kali perintah dikirimkan.

Saya balikkan badan, mencoba menjaga tubuh tetap mengapung. Sebelah kaki yang tak patuh terasa lebih berat berkali lipat.

Kepala saya terbenam sesaat. Tapi badan masih cukup tanggap, sekejap kepala saya muncul kembali ke permukaan. Saya coba gerakkan kaki kiri yang ternyata tak banyak membantu.

Beberapa kali saya timbul tenggelam meskipun gelombang sama sekali tak deras. Terbenam, lalu muncul kembali. Begitu berulang kali.

Panik mulai menggelayut. Air mulai memasuki mulut, meskipun berkali-kali saya semburkan.

Saya lambaikan tangan kanan, berharap kedua teman yang duduk di pantai melihat sinyal yang saya kirimkan. Tak ada respon.

Badan saya kembali terbenam di sela ombak pelan.  Kecamuk air dan suara gerak tubuh yang tertarik ke bawah gelombang bertalu di telinga.

Saya coba melambai lagi dengan posisi badan sepenuhnya di dalam air. Saya tak yakin ada yang melihat karena hanya pergelangan tangan yang muncul di permukaan.

Bertahan untuk tak tenggelam ternyata menyita tenaga, menghabiskan energi yang tersisa dari perjalanan menyenangkan seharian tadi.

Saya putuskan berteriak.

Help!”, teriakan saya tersekat di tenggorokan yang tersedak air garam.

Tenggelam lagi.

Saya paksakan naik kembali.

HELP! HELP ME!”, kali ini lebih keras, dengan segenap daya yang tersisa. Sepertinya tadi masih ada beberapa orang yang berenang di sekitar saya. Semestinya mereka mendengar.

Jantung mulai berdegub kencang. Berharap bantuan datang.

Tapi tak ada yang muncul, tak pula ada kapal mendekat.

Desir angin senja yang kawin dengan deru air mungkin membawa teriakan saya pergi entah ke mana. Hilang begitu saja. Pun gelap, mungkin menyembunyikan bayang saya.

Laut yang tadinya hangat dan bersahabat tiba-tiba terasa beringas saat rasa panik memegang kuasa.

Lelah. Badan saya tak kuat.

Ia menyerah.

Pelan-pelan saya tenggelam.

Suara air menyesak di telinga. Mulut bermaksud mengeluarkan air yang masuk, apa daya jumlah yang keluar tak sebanyak yang tertelan.

Pasir renik dalam air membuat mata perih, mengeruhkan pandangan.

Sepenuhnya saya sadar bahwa saya akan terbenam.

Karam di dasar segara biru Kroasia.

Segara Biru Kroasia

Seketika rasa takut menguar saat saya menyadari pernah membaca satu hal: Tenggelam adalah salah satu jalan paling menyiksa untuk menjemput ajal.

Setiap tahapannya bisa dirasakan dengan penuh kesadaran. Tubuh dan otak sepenuhnya tahu saat air menyesaki hidung, membuat nafas tersengal. Kemudian ia memenuhi mulut, serta merta memancing kalut.

Pelan-pelan, rasa tercekik yang berbalut panik akan memancing keinginan untuk memekik, hingga akhirnya ruh tersentak luruh: bercerai dari tubuh. Tak heran jika tenggelam dan water-boarding menjadi salah satu teknik penyiksaan paling efektif yang digunakan saat menginterogasi tawanan. Karena memang menyakitkan.

Amat menyakitkan.

Ah, terlalu banyak tahu memang kadang tak membantu.

Pernah di satu masa saya bertanya, bagaimana rasanya mati? Sadarkah tubuh saat ruh bergerak pelan meninggalkan diri? Selepas itu, kemana ia pergi?

“Tak perlu lagi bertanya”, pikir saya, saat itu. Saat tubuh bergerak turun dengan gaya batu.

Saatnya sudah tiba. Segera, saya akan jelang jawabannya. Sudahlah, menangis pun tak lagi berguna. Ajal sudah di depan mata. Barangkali lebih baik bersiap menyambut dan menjabat tangannya, berharap sakitnya berlalu sekejap mata.

Saya sudah pasrah.

Pandangan mulai gelap. Sulit sekali bernafas dengan mulut tersumpal air dan paru-paru yang terasa sesak. Kepala pun sangat sakit karena air yang masuk dari hidung terasa sangat menggigit.

Laut Siang yang Berbanding Terbalik dengan Suasana Petang

Saya tak paham bagaimana mulanya, tiba-tiba saya melihat secercah terang di atas sana.

Sangat sedikit. Lalu tiba-tiba banyak bayangan muncul di kepala. 

Yang terlihat paling awal adalah nenek dan kakek saya, berdiri di depan lemari kayu penuh buku di rumah tua mereka.  Tak terlalu jelas ekspresinya.

Kemudian, -saya takkan pernah lupa-, Ayah saya muncul di kepala. Tersenyum melambai, seolah memanggil.

“Kenapa mereka semua, yang telah pergi bertahun lamanya, tiba-tiba berkelebat di kepala?”, saya bertanya pelan dalam dada.

Kerongkongan kian tersekat. Pelupuk mata terasa lebih hangat, meskipun air laut telah berganti menjadi dingin. Saya tak terlalu yakin air mata masih bisa mengalir saat kita putus asa. Masihkah?

Saya bersiap untuk menggembung, dengan kulit melunak, pelan-pelan digerogoti ikan. Mungkin tak sekarang. Mungkin beberapa hari kemudian, bila jasad saya tak berhasil ditemukan.

Lalu seketika, saya teringat seseorang.

Ibu.

Beliau terlalu sabar menanti saya di rumah, meskipun mungkin anaknya jarang pulang dan sering berulah. Tak henti menautkan nama saya dalam daras rapal doanya, setiap hari, di sepertiga ujung malam.

Apa yang terjadi padanya jika saya mati di sini? Terpuruk di dasar samudera, puluhan ribu kilometer dari rumah?

Siapa yang akan membawa jenazah saya pulang kelak? Apakah saya akan dikremasi, dijadikan abu lalu dibawa dalam porselen? Atau akan dikubur saja entah di mana, karena keterbatasan biaya?

Saya tak mau.

Saya ingin, bilapun saya harus pergi lebih dahulu, Ibu bisa datang menziarahi kubur saya kapanpun beliau ingin. Kroasia jelas terlalu jauh untuk usianya yang tak lagi muda.

Sedih dan putus asa bercampur di dada.

Membayangkan Ibu tersedu, menyambut peti jenazah anaknya yang meminta izin untuk pergi, lantas tak pernah kembali lagi.

Saya tak mau menorehkan lebih banyak luka untuknya.

Lalu entah bagaimana, tiba-tiba, sepercik asa kembali membara.

Pikiran saya kembali berjalan. Saya paksakan badan untuk naik sambil berdoa.

Bermodal keajaiban, pelan-pelan badan saya kembali terdorong ke atas. Kepala kembali menyembul di permukaan.

Saya coba kembali berteriak. Sekencang-kencang suara. Sehabis-habis tenaga.

HELP!!! ANYBODY, HELP ME!”

Saya tenggelam kembali. Beberapa kali. Ketika akhirnya kembali timbul, saya melihat seseorang melemparkan sesuatu.

Ia tak merapat, tapi benda yang dilemparnya jatuh cukup dekat. Sebuah pelampung berwarna oranye muda.

Tanpa pikir panjang saya raih dan saya pasang segera. Sulit ternyata memasang jaket penyelamat di tengah panik dan air yang menghempas. Tapi akhirnya saya berhasil, pelampung terpasang, meskipun tak sempurna. 

Pelan-pelan tubuh saya terasa naik. Air masih bersemburan dari mulut, garamnya menyisakan perih di kerongkongan. Tapi saya tak peduli, saya sudah mengapung kembali.

Sisa kekuatan yang ada saya manfaatkan untuk mendorong badan ke tepian. Pelan, akhirnya saya berhasil menjejak di area yang lebih dangkal. Tak pernah saya sebahagia itu melihat pasir dan daratan.

Masih Bisa Melihat Daratan Terkadang Bisa Sangat Melegakan

Setelah memastikan diri beringsut ke tempat yang lebih tinggi, saya telungkupkan badan. Air keluar berkali-kali. Dari hidung, juga dari mulut.

Seseorang tiba-tiba menghampiri. Pria paruh baya berkewarganegaraan Jepang.

Are you okay, mate?” ujarnya.

Saya anggukkan kepala pelan. Dada masih menderu, masih tak percaya ajal yang tadi mendekat tiba-tiba membatalkan niat.

Ternyata, Bapak itulah yang tadi melemparkan jaket penyelamat. Ia mengaku tak terlalu mahir berenang sambil menyelamatkan orang. Itulah sebabnya ia melemparkan pelampung, setidaknya memastikan saya tetap terapung.

Saya ucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa saya. Ia tersenyum lalu berlalu meninggalkan saya yang masih terduduk sambil sesekali terbatuk. 

Di kejauhan, kedua teman saya melangkah mendekat. Sama sekali tak menyangka saya nyaris tenggelam. Salah satu sempat melihat saya melambaikan tangan, tapi mengira saya hanya bergurau dan melempar ejekan.

Untunglah, kami masih bisa tertawa sesudahnya. Cerita mungkin jadi berbeda bila saya benar-benar karam di dasar samudera.

Post-tragedy Contemplation
Terima Kasih Banje, Untuk Pelajaran yang Diberikan

Hari itu, satu senja di Kroasia, saya belajar banyak hal.

Betapa mudahnya jalan hidup berbalik arah. Betapa cepatnya manusia lengah dan pongah, lalu takdir menunjukkan bahwa kita hanyalah makhluk lemah.

Buku hidup saya nyaris ditutup hari itu, saat baru sebagian halamannya ditulisi cerita. Saat masih banyak hal yang tak saya pahami. Saat masih banyak nikmat yang belum saya syukuri.

Selamanya saya berterima kasih, Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantu saya. Saya tak tahu tujuannya, mungkin kelak, suatu waktu, jawaban itu akan saya temukan.

Saya juga tak tahu pasti berapa lama berjuang untuk tak tenggelam. Lima menit? Sepuluh menit? Entahlah, saya yakin tak lama. Tapi terasa sangat panjang, dan sungguh tak ingin saya ulang.

Senja itu, di bawah semburat lembayung langit Banje, persepsi saya tentang hidup dan cara menjalaninya berganti.

Hidup tak semata perkara hura-hura. Ia juga tak hanya dihiasi suka cita.

Pula, tak ada yang abadi. Maka selama masa itu masih ada, akan saya coba jalani dengan sebaik-baik budi.

Dengan serendah-rendah hati.

Doakan.

50 comments

  1. I’m so sorry about what happened, mas. Alhamdulillah, endingnya suguh melegakan. Sempat ngos-ngosan juga saya bacanya.

    Saya penggemar GOT dan nama Dubrovik sempat terpikir oleh saya. Bayangan tentang mlaku-mlaku di Kings Landing, wih, tampak seru banget. Saya tiba-tiba membayangkan detik-detik saat naganya Daenerys bakal memorak porandakan kota itu.. *sorry jadi spoiler haha

    Semoga suatu saat biasa ngelayap ke Eropa amiin.

    Pengalaman2 ‘near-death’ experience memang sulit dilupakan ya mas.. Kelar baca ini saya jadi teringat akan kisah saya sendiri, kecelakaan di kota sendiri hingga patah tulang. Meski di kota sendiri, kepikirannya sampe sekarang. Apalagi njenengan yang di benua sana.

    Kejadian macam ini biasanya bisa mengubah cara pandang seseorang akan hidup sih..setuju sekali dengan penutupnya, thoughtful!

    I’m looking forward to another story!

    Liked by 1 person

    1. Hi Mas Rifan, no need to worry about spoilers as I’m a big fan of GoT too. Too bad the last three seasons rada-rada underwhelming ya, hahha.

      Bener mas, alhamdulillah banget ga sampai kelelep beneran. Ada hikmahnya sih bener, sejak itu kalau ngetrip saya selalu usahakan untuk pake asuransi, terus lebih berhati-hati juga dalam segala hal.

      Wah NDE mah traumatik sih kalau saya bilang. Bikin kepikiran terus. Dulu kecelakaan yang kena bagian kaki apa tangan, Mas? Udah aman tapi kan ya sekarang?

      Anyway makasi banyak udah nyempetin baca, semoga jadi bisa lebih berhati-hati juga kalo ngetrip ya.

      Like

      1. Gotcha! Season terakhir terutama, agak mengecewakan sih, tapi enggak apa-apalah. Haha

        Ini membuka pandangan saya sih soal pentingnya asuransi perjalanan.

        Dulu di kaki, sempat dipasang pen tapi beberapa bulan lalu sudah saya lepas jadi aman hamdallah. Sekarang Sehat wal afiyat. 😅

        Liked by 1 person

        1. Haha iya, agak rushed gitu ya endingnya tapi ya mau gimana, namanya juga ga berdasarkan bukunya lagi hehe.

          Bener, Mas, apalagi sekarang udah banyak asuransi perjalanan yg terjangkau dengan paket beragam.

          Wah alhamdulillah udah kalo udah aman, glad to know that. Saya kemaren ini juga sempat ngerasain patah kaki walaupun ga sampe dipen (syukurnya). Itu aja udah ga enak banget.

          Semoga trip2 berikutnya selalu aman-aman ya!

          Like

  2. Untungnya hari belum benar-benar gelap ya waktu itu, jadi masih ada orang di sekitar yang bisa melihat situasi genting ini. Cerita ini menjadi pengingat bahwa kita seringkali abai terhadap apa yang badan kita butuhkan, dan baru bereaksi ketika badan akhirnya protes. Syukurlah cerita tegang ini tidak berakhir dengan tragedi.

    Liked by 1 person

    1. Syukurnya begitu, Mas Bama. Kalau waktu itu udah sepenuhnya gelap, mungkin bakalan lain cerita. Entah kenapa waktu itu juga ga ada lifeguard yang jaga, mungkin karena udah malam ya.

      Setuju banget. Memang kita harus lebih mawas sama sinyal yang dikirimin badan ya. Ini sebenernya berlaku juga buat kalo lagi kerja, kalau kecapean mungkin ga perlu dipaksa overtime. Buat menghindari segala kemungkinan buruk. Hehe.

      Liked by 1 person

  3. Haduuuuuh ikutan ngos-ngosan ngeri merinding bacanya. Aku bisa berenang, tapi tak bisa mengapung. Jadi kalau snorkeling masih mengandalkan pelampung. Dan aku juga nggak berani berenang sendirian di tengah lautan lepas.

    Baru tahu klo Dubrovnik jadi setting GOT. Masalahnya aku nggak pernah nonton GOT satu episode pun hehehehe.

    Doaku buat semua para pejalan, semoga selalu sehat dan selamat!

    Liked by 1 person

    1. Makasih Mas Alid, udah nyempatin baca, hehe. Kayanya emang lebih susah ngapung ya daripada berenang. Saya juga sama kalau snorkeling pasti masih make pelampung :))

      Pernah ngalamin kejadian hampir kelelep atau near death experience gitu juga ga mas sepanjang pengalaman ngetripnya?

      Liked by 1 person

      1. Kalau near death experience pernah hampir gak bisa nafas karena kebanyakan menghirup belerang. Pernah dibonceng temen pakai motor nyaris kegencet truk. Haduh udah ah ngeriiiik klo inget-inget haha.

        Liked by 1 person

        1. Kok serem ya hahha.. Kaya adegan film Final Destination atau Midsomar gitu ya.
          Semoga ga kejadian lagi ya, mudah-mudahan aman-aman selalu biar bisa melancong dan menulis terus. Aamiin.

          Like

  4. Kalau aku pecinta GoT mungkin dulu aku bela-belain banget ke sana. Tapi sayangnya cuma tahan nonton 1 season plus beberapa episode di season 2. Lalu nggak lanjut karena merasa bertele-tele aja ceritanya hehe.

    Serem juga pengalamannya. Untuk orang yang kemampuan berenang hanya 30-40% aja, makanya aku gak begitu suka laut (selain kalau mau pamer bodi gak pede buahaha). Dan, dulu juga pernah kejadian kayak gitu di mana air laut udah banyak masuk badan dan orang “hanya” dapat memandang dari kejauhan karena menganggap, “amanlah, dia pake life jacket.” Padahal tenaga udah habis rasanya.

    Semoga gak kapok main ke laut, yes!

    Liked by 1 person

    1. GoT rada kebanyakan tokoh sih ya, jadinya musingin awal-awalnya hehe.

      Bener banget, kadang udah pake pelampung pun, kalo energi udah abis tetap aja lemes rasanya kalo mau berenang. Emang harus perhatian banget sama kondisi badan saat berenang, apalagi di laut.

      Belum kapok sih, Mas, hahaha. Cuma ya jangan sampe kejadian gitu lagi juga, amit-amit haha..

      Like

  5. Omygad, seram sekali pengalamannya mas 😳

    Saya juga nggak bisa berenang, makanya paling jarang liburan ke air entah itu waterpark, pantai maupun laut karena merasa nggak enjoy 😂 paling sesekali ke pantai hanya untuk jalan di tepiannya saja itupun bisa dihitung jari dalam setahun hanya sekali atau dua kali datang 🙈

    Sumpah nggak kebayang kalau itu kejadian ke saya, dari deskripsi mas Ikhwan saja sudah berhasil membuat saya ikutan tercekat seperti nggak bisa bernapas 🤧 semoga mas Ikhwan selalu sehat dan selamat di manapun berada yah —

    Liked by 1 person

    1. Berarti lebih senang ke gunung atau menikmati kota gitu ya mba. Amannya sih memang gitu ya, tapi kadang kan penasaran juga ya pengen nyobain main air :))

      Aamiin, semoga juga selalu sehat-sehat ya mba! Makasih udah mampir.

      Like

      1. Ke gunung juga biasa saja mas 😂 capek menanjaknya hahahaha. Saya anak kota sebetulnya lebih enjoy kalau liburan di kota. Tapi anehnya when it comes to live, saya memilih hidup di pulau Bali atau pulau Jeju bukan di Jakarta / Seoul 🤭 karena sukanya hidup dekat alam.

        Amiiiin mas, sehat-sehat ya kita 😁

        Liked by 1 person

        1. Wah, paradoks yang menarik, Mba. Mungkin karena masih pengen menikmati alam juga tapi dengan kadar secukupnya ya. Then Bali must be the right choice for ya!

          Like

  6. Selalu penasaran ke Dubrovnik karena saya penonton GoT (walau season2 terakhir buruk sekali, haha), dan ga nyangka kalau ternyata ada juga ya pantai kotor di Eropa! Haha! Syukurlah masih dikasih umur mas, saya ikut deg-degan baca pengalamannya 😦

    Liked by 1 person

    1. rata-rata penonton GoT sepakat ya ternyata, season-season terakhirnya menurun banget kualitasnya. Mungkin bajetnya diplot ke CGI ya, jadinya writingnya keteteran hehe.

      Bener mba, saya juga agak kaget tumben pantainya kotor, Ternyata ga semuanya bersih juga di sana, sama aja kaya kita di sini.

      Alhamdulillah mba Mira, semoga sehat selalu ya!

      Like

        1. Wah baru dengar malah ada kota namanya Kotor. Kocak juga kayanya kalau main ke sana terus foto di bawah papan nama kotanya ya. :))

          ps. abis gugling ternyata kotanya tipikal kota tua berbenteng gitu ya. Menarik.

          Like

  7. baca ini jadi teringat kejadian di Pulau Bidadari Labuan Bajo beberapa tahun lalu, ketika teman saya hampir tenggelam.. Kami berdua snorkeling, teman saya sebenarnya gak pandai berenang tapi dia tergoda dg keindahan bawah lautnya.. tak terasa dia semakin ke tengah dan tiba-tiba tubuhnya terseret arus kencang, dia timbul tenggelam minta tolong, saya berusaha menolong, meraih tangannya tapi ternyata saya tak bisa berenang sambil membawa orang, mirip lelaki jepang itu. saya minta pertolongan ke teman yg ada di kapal, lokasi cukup jauh, teman malah mengira saya ngasih tau ada ikan bagus. Ya, ada miskomunikasi.. Beruntungnya teman saya menemukan satu terumbu karang besar untuk dia berpijak. Dia menenangkan diri dulu lalu berenang ke pinggir, akhirnya dia selamat, kembali ke kapal, dan snorkeling lagi cuma kali ini pake pelampung .. fiuuh..

    deskripsi yg dijabarkan mas Ikhwan tentang selangkah ke kematian ini bener-bener ngeri bgt, udah kaya gambaran yg ada di film-film.. Alhamdulillah belum ajalnya,, semoga ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua, untuk nggak memaksakan diri saat kelelahan, untuk pemanasan sebelum berenang.. sehat-sehat selalu mas..

    -traveler paruh waktu

    Liked by 1 person

    1. Nah yang begini yang serem ya. Laut memang ga bisa diprediksi banget, bisa tiba-tiba ada ombak besar atau arus kuat yang menarik kita.
      Sepertinya buat bisa berenang sambil menarik atau nuntun orang lain itu agak lebih susah ya, beban jadi nambah belum lagi arus yang harus dilawan. Syukurlah temennya juga bernasib baik mas. Memang kadang-kadang mau ga mau kita juga kudu antisipasi dengan pakai pelampung, meskipun kadang ngerasa nggampangin.

      Alhamdulillah masih dikasi kesempatan mas. Jangan dulu dah hahaha.. Dan bener banget sampe sekarang saya jadi lebih waspada sama hal-hal keamanan dan keselamatan kalau lagi jalan-jalan. Semoga tulisannya bisa mengingatkan sesama traveler juga buat selalu hati-hati kalau lagi ngetrip.

      Sehat-sehat selalu juga, mas Bara!

      Like

      1. tapi semoga ngga trauma dengan laut yaa, supaya lebih hati-hati aja.. saya juga pernah mengalami near death experience.. Lagi-lagi di Labuan Bajo, kali ini di trip yang berbeda.. Kapal kami digoyang badai selama 4 jam mengapung terombang-ambing di lautan, 4 jam gak ada sepatah kata pun yang keluar, ngeri bgt..

        Liked by 1 person

        1. Aamiin, semoga sih mas. Tapi kadang-kadang masi suka kepikiran juga hehe.

          Empat jam kejebak badai? Jangan-jangan kapalnya juga ga dilengkapi pelampung yang memadai ya? Soalnya sering banget naik kapal di indonesia yang jumlah pelampungnya sesuai jumlah penumpang atau ga.

          Kalau udah 4 jam terjebak jam pasti sih ya ga bisa ngomong apa-apa, bawaannnya diem aj pasti sambil berdoa banyak-banyak. Syukurlah akhirnya selamat dan ga kenapa-napa mas. Badai yang datangnya dadakan emang ga bisa diprediksi sih ya.

          Like

  8. Serem mas untaian pengalamannya 😦 saya pernah di posisi hampir sama kayak mas, tapi saya gak bisa berenang. Kira2 kronologisnya begini: sok2an main air di kolam renang, lalu hampir tenggelam, flashback, pasrah kalo mau mati, bergerak ke tepian, lalu bisa menggapai tepi kolam

    kemaren habis nonton film triller The Shallows, tentang surfer yang terjebak di batu karang yang dikelilingi hiu ganas

    sejak saat itu saya jadi agak gamang kalo liat kolam renang atau laut 🙂 lebih suka menghindari air

    Liked by 1 person

    1. Syukurlah bisa luput dari maut ya, mas. Kadang di kolam juga sering kejadian kan, ga mesti di laut atau di danau doang. Memang mesti waspada terus.

      The Shallows mirip-mirip Jaws berarti ya tentang hiu ganas. Nanti coba nyari ah hehe.

      Tenang mas, selain laut dan danau masih banyak juga pilihan tempat wisata lain kan hehe.

      Like

  9. Halo Mas, aku juga bersahabat dengan air apalagi laut. Padahal waktu kecil pernah bercita-cita jadi anggota Angkatan Laut, setelah memakai kostum tsb waktu karnaval TK 😀
    Tapi apa daya, berenang pun ga bisa. Percobaan pertama harus berakhir dengan trauma karena hampir tenggelam di kolam renang.

    Tapi aku sebenenya juga suka pemandangan lautan lepas. Birunya kadang menggoda, seperti ketika berkunjung ke Karimunjawa. Menyesal sekali kenapa keahlian satu itu ga pernah dikuasai 😦

    Liked by 1 person

    1. Mungkin lebih pasnya “belum” dikuasai Mas. Hehe. Masih ada banyak waktu buat belajar juga kan. Semoga nanti suatu saat bisa ya, jadinya lebih bisa menikmati laut seutuhnya.

      Banyak juga sih memang yang trauma. Semoga bisa cepat sembuh traumanya, mas Anggoro. Pelan-pelan, ga usah buru-buru, time will heal.

      Like

  10. Saya punya keinginan yang random sekali, jika ada kesempatan ke Luar Negeri, salah satu negara yang ingin saya kunjungi adalah Kroasia. Selain (Inggris – lebih tepatnya ke kota liverpool, menyusuri stadion anfield, mekah, ataupun Kosta Rika).

    Dulu, sejak kecil kepincut kroasia karena jersei sepakbolanya unik, ada kotak-kotak merah putih. Aneh ya, mau berkunjung kok karena jersei bola hahahhaha.

    Membaca ini, membuatku sedikit paham sudut di sana. Menyenangkan, kutunggu edisi yang lainnya tentang Kroasia

    Liked by 1 person

    1. Semoga satu-satu tempat-tempat impiannya bisa disamperin ya Mas. Boleh tau apa yang bikin Costa Rica masuk dalam bucketlistnya mas? Soalnya kayanya jarang-jarang orang pengen ke Costa Rica hehe.

      Bener, jersey tim olahraga Kroasia memang unik, sumbernya ya dari bendera negaranya ya. Kotak-kotak putih merah itu kalo ga salah logo raja kroasia di abad 10 dulu, jadinya diambil sebagai simbol negara sekarang.

      Hehe, oke mas, terima kasih sudah menyempatkan baca.

      Like

      1. Saya pernah punya kawan dari Kosta Rika, tidak sengaja bertemu, tapi selama 3 hari kami berbincang. Dia bercerita bagaimana keadaan di Amerika Tengah, kok aku tertarik.

        Selain itu, nama Kosta Rika itu tebersit juga mirip Kroasia, dulu waktu piala dunia entah 1994 atau 1998, aku kepincut bajunya ahahahha

        Liked by 1 person

        1. Iya sih jerseynya iconic banget, kayanya ga ada tim lain yang pake jersey kotak-kotak begitu ya.

          Saya tahunya Costa Rica malah salah satu negara produsen pisang terbesar dunia, mas. Kalau suatu waktu main ke sana mungkin bisa main-main juga ke banana plantationnya hehe.

          Like

  11. wow. mengerikan pas ikut baca. serem ya ternyata rasanya tenggelam.
    sejauh ini kalau ke pantai aku nggak pernah berenang, sesekali hanya main-main air aja. alasannya sederhana, karena nggak mau berbasah ria yang mengharuskan ganti baju. berat.

    meski pantai banje nggak seeksotis pantai di Indonesia, tapi masih ramai karena mereka mau ke Indonesia juga mahal dan jauh kali ya? hahaha.

    aku belum pernah nonton GoT, jadi nggak tau settingan filmnya. cuma beberapa waktu lalu pernah berencana ikut sebuah kegiatan di kroasia-slovenia, semacam summer school, dua minggu, sayang nggak beruntung. uhuh.
    pas bikin semacam essay dan harapan sebagai syarat, sempet mempelajari sedikit soal kroasia dan slovenia, ternyata menarik. 😀

    Liked by 1 person

    1. Wah alasannya kocak juga mas, hehe. Tapi bener juga sih ya, kalau lagi traveling ringkes gitu suka males bawa-bawa baju ganti. Kalau basah malah jadi nambah berat ya.

      Kayanya ramai karena mereka ga banyak alternatif pantai yang bagus mungkin ya. Dan pantai kan hanya bisa maksimal dinikmati di musim panas kalo di sana. Kalo winter kan dingin. Ga kaya kita di sini, pantai kita buanyak dan bisa dinikmati sepanjang tahun.

      Coba lagi aja mas ikutan seleksi shortcoursenya. Siapa tau rejeki kan. 😀

      Liked by 1 person

      1. iyaa. kayaknya rame karena ya itu satu-satunya pilihan hehehe. jadi kurang pas kalo dibandingin sama pantai di indonesia. 😀

        belum buka lagi sepertinya. kebetulan itu giliran negara-negara di ASEAN, jadi setauku sekarang jatahnya negara lain 😀

        Liked by 1 person

        1. Bener bgt mas. Kalo di sini mah tutup aj milih pantai random juga suka dapat yg cakep ya haha.

          Semoga kesempatan berikutnya segera datang ya! Good things come to those who can wait. 🙂

          Liked by 1 person

  12. Saya sering impulsif juga langsung lari dan nyebur ke laut begitu tiba di pantai, Mas Ikhwan. Tapi itu kalau lautnya tenang. Kalau ke pantai-pantai yang ombaknya besar kayak di bagian selatan Jawa, paling banter cuma jalan-jalan di antara buih-buih yang mengempas. Mujurnya, belum pernah hampir tenggelam. 😀

    Sepertinya skena foto nomor 6 pernah saya lihat di Game of Thrones, Mas Ikhwan. Kalau nggak salah itu jadi latar adegan slo-mo pas Tyrion Lannister jalan kaki waktu King’s Landing dibakar sama naganya Daenerys.

    Valar morghulis! 😀

    Liked by 1 person

    1. Susah banget emang ya nolak godaan ombak laut yang manggil-manggil. Apalagi kalau cuaca cerah dan lagi gerah-gerahnya. Bawaannya pengen nyebur langsung.

      Kalau pantai selatan Jawa memang kebanyakan ga bisa buat berenang suka-suka ya, soalnya ombaknya (katanya) bisa narik banget dan banyak palungyang bikin bahaya.

      Pengamatan yang jeli, Mas Shige. Kalau ga salah season 8 episode 5 ya yang bakar-bakar. Tower yang satu itu emang cukup mendominasi view kota tuanya Dubrovnik sih, jadi sepertinya cukup wajar dijadiin objek utama di King’s Landing juga. Jalan ini sendiri namanya Stradun kalau ga salah, seluruh permukaan jalannya ditutup paving dari batu gamping gitu.

      Valar Dohaeris! 😀

      Liked by 1 person

      1. Iya, Mas. Ngeri banget. Sekali waktu, sekitar 2010 kayaknya, pas ke Parangtritis sama kawan-kawan, kami nongkrong sampai pagi dan lihat ombak pasang berlapis-lapis. Sejak itu saya makin respek sama ombak selatan. 😀 Berenang-berenang sama sekali bukan pilihan. Mentok-mentok cuma main ombak dikit di Gunung Kidul. 🙂

        Ternyata benar. Pas semua penonton merasa “dikhianati” Daenerys, ya, Mas? 😀 Lanskap tanjung yang Mas Ikhwan jepret dari atas itu juga sering banget masuk bingkai. Kayaknya cuma dikasih efek sedikit saja itu yang di film. 🙂

        Seneng banget baca postingan ini dan baca peziarahan Mas Ikhwan. 😀

        Liked by 1 person

        1. Ombak pantai Selatan memang bikin respek ya :)) Biarlah jatahnya peselancar aja kalau yg main sama ombak. Kalau saya sih setuju mending dinikmati dari jauh aja diliat-liat, atau main air dikit hehe.

          Dikhianati karena kok kayanya terlalu dadakan gitu perubahan sikapnya mungkin ya. Jadinya kaya melawan pakem sifatnya Daenerys selama 7 season sebelumnya.

          Bener, mas Shige. Lanskap yang satu itu cukup sering muncul juga.

          Terima kasih mas!

          Liked by 1 person

          1. Cukup melihat peselancar meliuk-liuk di ombak aja sudah menyenangkan ya, Mas? 😀

            Mungkin begitu, Mas Ikhwan. Tapi dari akhir season pertama sejak Ned Stark dipenggal, saya sudah nggak terlalu heran sama kejutan-kejutan di Game of Thrones. 😀

            Senang bisa baca cerita dan intip-intip foto King’s Landing lewat tulisannya Mas Ikhwan. 😀

            Liked by 1 person

            1. Wah berarti pas Red Wedding juga ga terlalu kaget ya. Saya pas Red Wedding masih heran sih, kok bisaan aja scriptwriternya bikin twist gitu, tapi pas Purple Wedding -giliran Joffrey, saya udah ga heran lagi tapi malah ketawa puas. Haha..

              Makasih banyak, Mas!

              Like

  13. Salah satu bucket list-ku ini ke Kroasia dan Bosnia. Pengen via jalur darat dari Turki ke Yunani, lalu ke situ. Ntar aku nanya-nanya ya kalau mau ke sana (cita-cita aja dulu sapa tau terwujud)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: