Asia Myanmar

Bimbang Mengambang dalam Balon Terbang

Kabut masih membalut daratan saat minibus yang saya tumpangi melaju melindas tanah jalanan.

Masih gelap.

Subuh baru saja berakhir, sementara penyejuk di dalam mobil yang disetel pada suhu rendah semakin menggenapkan dinginnya suasana.

Bagan, Lepas Subuh

Kendaraan itu bergerak semakin cepat, seolah tak punya alasan untuk melambat. Sebelumnya, si pengemudi memang sudah memberi tahu: balon udara tak terbiasa menunggu calon penumpang yang tak tepat waktu.

Bulan November disebut-sebut menjadi salah satu waktu yang paling tepat mengunjungi Bagan. Salah satu daerah kaya sejarah di Myanmar ini belakangan menyeruak ke dalam daftar tujuan wisata populer, tak hanya bagi pelancong Asia Tenggara, tetapi juga pengunjung lintas benua.

Salah Satu Pagoda Utama di Bagan (Maafkan Lensa yang Jamuran :D)
Matahari Terbit di Sela Pagoda

Menjelang akhir tahun, cuaca di Bagan tidak terlalu kering tapi juga tidak terlalu basah. Angin tak mengganggu. Jarak pandang pun tengah bagus-bagusnya, sehingga sangat cocok untuk menikmati hamparan kuil-kuil kuno Bagan dari ketinggian.

Bagan, Negeri Budha dengan Seribu Pagoda
Pagoda Tua Dilihat dari Udara

Ya, Bagan memang terlalu lekat dengan pesona ribuan pagodanya. Karena itulah warganya mengemas dan memasarkannya sedemikian rupa, salah satunya dengan wisata balon udara. Pengunjung yang berminat bisa mencoba sensasi melayang dalam balon terbang sambil menikmati pemandangan pagoda-pagoda yang membentang sejauh mata memandang.

Balon Terbang di Atas Bagan

Sebenarnya Bagan bukanlah pionir dalam wisata sejenis. Paket tamasya semacam ini sudah lebih dahulu mapan di Capadoccia, Turki.  Beberapa perusahaan juga menawarkan jasa mengudara dengan balon udara melintasi savana dan stepa di Kenya, Afrika. Bagan mungkin bisa jadi alternatif bagi yang ingin mencoba pengalaman serupa, terutama karena lokasi yang jauh lebih dekat dari Indonesia.

Pagoda Tua Berlatar Balon Udara
Balon-balon Merah Mengangkasa
Siluet Balon dan Pagoda

Mobil yang membawa saya perlahan mengurangi kecepatannya lalu bergerak mencari tempat yang pas untuk berhenti.

Ketika akhirnya menemukan lokasi parkir yang tepat, pengemudi mematikan mesin dan menyilakan penumpang untuk turun lalu berjalan kaki menuju tanah lapang di sisi kanan.

Jejeran Minibus yang Diparkir di Tepi Lapangan

Saya longokkan kepala ke luar jendela. Samar terlihat sudah banyak orang berkumpul dan duduk di kursi-kursi yang disusun mengelilingi beberapa meja. Saya julurkan tangan meraih tas kecil dan kamera, kemudian bergegas turun dari mobil, melangkah ke meja yang ditentukan.

Di luar perkiraan saya, calon penumpang balon udara yang berkumpul tadi tak sekadar duduk menunggu diterbangkan. Mereka bercengkerama sambil mengisi perut. Penyedia jasa ternyata menyiapkan beberapa menu sarapan sederhana. Roti tawar, sereal, croissants, teh, kopi, susu, serta jus, terhidang di meja dan di food truck yang sedia di pinggir lapangan.

Menikmati Sarapan Sebelum Terbang
Pilihan Menu Sarapan

Tak lama seorang pria paruh baya berdiri di depan meja. Menyebut diri dengan nama Pep, pria bertopi pet, berkacamata, dan mengenakan polo shirt hijau berlengan pendek itu menjelaskan beberapa hal teknis dan memberitahu bahwa dirinya lah yang bertugas menerbangkan balon udara yang akan saya dan penumpang lainnya naiki.

Penumpang Dikelompokkan Sesuai Pilot yang Akan Mengawaki Balon Udara

Pep, berkebangsaan Perancis, mengaku terlatih mempiloti balon udara ratusan kali di beberapa tempat berbeda.

“Tak usah khawatir”, ujarnya sambil tergelak. “Kelihatannya hari ini akan cerah dan tidak berangin. That’s all we need”.

Ia lalu tertawa lagi. Sepertinya Pep menangkap gelagat cemas di raut muka beberapa penumpang. Saya, sejujurnya, juga merasakan hal yang sama.

Balon udara, sependek pemahaman saya, sama sekali tidak menggunakan mesin. Bila pesawat terbang mengudara dengan memanfaatkan mesin penggerak dan dibantu gaya dorong udara, balon hidrogen sama sekali berbeda.

Tak ada mesin. Tak ada sayap.

Balon udara semata mengangkasa karena bantuan gas yang menggelembungkannya. Panas gas akan menghasilkan suhu udara yang lebih hangat dari udara sekitarnya. Karena udara yang hangat mempunyai massa lebih ringan, ia akan bergerak naik, sekaligus membawa balon dan keranjangnya mengambang.

Ya.

Balon udara itu mengambang. Bukan terbang.

Bila terjadi masalah pada suplai gas atau permukaan kantongnya, balon terpaksa harus mendarat darurat. Kemungkinan terburuknya tentu saja jatuh ke bumi. Jelas bukan gambaran yang menyenangkan jika terbayang beberapa saat sebelum mencoba menaikinya. 

Saya tersenyum, mencoba menghapus imajinasi buruk tadi.

“Sudah terlambat untuk bimbang”, batin saya  dalam  hati.

Mengambang

Pep lalu membawa rombongan lebih dekat ke lapangan rumput terbuka.

Sudah mulai agak terang sehingga suasana bisa terlihat lebih jelas.

Tak cuma satu, ternyata ada beberapa balon yang sudah mengambil posisi di sana. Keranjang-keranjang yang akan membawa penumpang berjejer dalam jarak tertentu, sementara balon-balon udara yang ada ternyata belum mengembang. Kantong nilonnya terhampar menutupi permukaan tanah.

Persiapan Sebelum Terbang
Meniupkan Angin Agar Kantong Balon Mengembang

Beberapa kali nyala api muncul dari tengah keranjang-keranjang tadi. Pilot-pilot rupanya tengah bekerja, menyiapkan api, blower, dan gas yang akan menyesaki balon hingga mengembang sempurna. Deru gas membahana membelah pagi.

Menyemburkan Gas ke Dalam Balon
Panas

Saya menikmati menonton atraksi itu. Pelan-pelan, gas mulai memenuhi balon-balon aneka warna. Ada tiga warna balon dari penyedia jasa yang berbeda. Merah, Kuning, dan Hijau.

Mulai Mengembang

Tiba-tiba terdengar suara Pep menyeru, meminta rombongan segera merapat ke keranjang.

Bergegas saya hampiri balon udara yang akan mengangkut kami.

Saatnya Masuk ke Keranjang

Bergantian, satu persatu calon penumpang melangkahi dinding rotan keranjang setinggi dada orang dewasa. Tersedia ruang yang cukup untuk memuat 12 orang, ditambah satu orang pilot. Pep sudah lebih dahulu mengambil posisi di tengah-tengah.

Bukan Pep Guardiola

Saya amati, keranjang itu dibagi dalam tiga kompartemen utama. Kiri, tengah, dan kanan. Kompartemen kiri dan kanan dibagi dua oleh pembatas rotan sehingga terdapat empat ruang kecil yang masing-masingnya diisi oleh tiga orang. Tak ada parasut cadangan yang disediakan.

Meskipun di dasar keranjang terdapat tempat duduk kecil, namun tidak disarankan untuk duduk selama penerbangan. Kursi tadi hanya digunakan di akhir perjalanan, saat hendak mendarat kembali.

Pembagian Ruang dalam Keranjang
Kursi di Dalam Keranjang Balon

Iseng, saya hitung jumlah penumpang yang akan terbang. Dua belas penumpang ditambah satu orang pilot.

“Tiga belas”, saya bergumam pelan.

Bimbang itu mencelat lagi.

Bukankah tiga belas angka nahas yang katanya mengundang sial?

Saya lirik balon yang mengembang di atas kepala. Warna hijaunya membawa nuansa teduh di sela terang api yang keluar dari burner di tengah keranjang.

Kantong Balon Udara

Hijau.

Tiba-tiba saja saya teringat pada lirik lagu “Balonku” yang saya pelajari di Taman Kanak-kanak dulu.

“Meletus balon hijau, duarrr…”

Persis seperti lanjutan liriknya,  hati saya seketika kacau.

Bagaimana tidak. Keranjang rotan ringkih ini akan membawa TIGA BELAS penumpang dan akan dibawa terbang oleh balon berwarna HIJAU.

Tuhan, kebetulan macam apa ini?

Jangan-jangan ini yang disebut firasat. Pertanda buruk yang dikirimkan langit bagi mereka yang mau mengingat.

Kening saya mengernyit. Entah kenapa tiba-tiba makanan yang saya santap tadi terasa terdorong kembali ke atas. Mual.

Api berkobar diiringi desir dan tiupan hawa panas. Keranjang yang saya injak mulai bergerak sedikit.

Sudah tak ada waktu menimbang ulang. Saya putuskan, rasa penasaran harus jadi pemenang. Saya biarkan ia mendorong dan menggilas habis rasa bimbang.

Bismillah”.

Jelang Terbang

Terdengar teriakan Pep yang memberikan beberapa instruksi keselamatan sambil meminta penumpang untuk bersiap. Saya kencangkan pegangan tangan pada pinggiran keranjang.

Lalu tanpa saya sadari, balon udara itu pelan-pelan bercerai dari daratan.

Tuhan, Saya Terbang.

Pelan, senyap, dan di luar dugaan saya: sama sekali tanpa guncangan.

Tenang. Sangat tenang.

Saya mengambang.

Terbang.

Dalam balon udara.

Sungguh, seperti mimpi rasanya.

Perlahan, orang-orang, kendaraan, jalanan, dan bangunan di bawah terlihat semakin mengecil.

Objek di Daratan Terlihat Semakin Mungil

Udara pagi menampar pipi saya, berpadu dengan rasa hangat dari api yang menyembur tanpa henti.

Saya berdiri dalam diam. Tercenung sambil menatap sekeliling. Kabut putih tipis masih menutupi pepohonan di sebagian wilayah Bagan.

Bagan Bersaput Kabut
Selamat Pagi, Bagan!

Pelan-pelan saat halimun itu tersibak, pagoda-pagoda coklat mulai terlihat.

Satu, dua, lima, sepuluh, seratus.

Pagoda-pagoda Mulai Terlihat

Kemudian, seiring makin tinggi balon melayang dan kabut yang semakin menghilang, terpampang pemandangan ribuan pagoda di antara pohon-pohon hijau, padang rumput, dan sungai.

Indah
Senyap
Langit yang Disesaki Balon Udara

Tak ada kata terucap saat fajar sepenuhnya menyingsing, menyibakkan keindahan hingga batas pandangan mata. Sesekali terdengar decak kagum pelan dari beberapa penumpang lain saat menyaksikan visual yang terhampar..

Saya layangkan tatap ke sekitar. Beberapa balon udara lainnya mengudara berdekatan. Terkadang, balon-balon itu menutupi mentari yang mulai membulat, menciptakan siluet dan pemandangan yang membuat mata tak henti jelalat.

Matahari yang Malu-malu

Bimbang tadi sudah sepenuhnya hilang.

Saya habiskan sisa waktu di udara dengan menikmati suasana, bercengkerama bersama Pep dan penumpang lainnya, serta mengabadikan panorama di depan mata.

Satu Pagoda Terlihat
Disusul Pagoda Lainnya
Pagoda di Mana-mana
Balon Udara Lainnya di Lihat dari Atas Balon Tempat Saya Mengangkasa
Mandatory Alay Pic
Fly High
Cerah, Tak Perlu Gundah
Selfie in Another Level

Tak terasa, 45 menit berlalu.

Suara Pep kembali terdengar. Kali ini meminta penumpang bersiap untuk mendarat. Berbeda dengan saat hendak terbang, penumpang diminta duduk dan menggenggam erat pegangan yang tersedia. Tujuannya supaya saat keranjang menyentuh daratan, guncangannya tidak membuat penumpang terlempar ke luar.

Pegangan Tangan di Dalam Keranjang

Pep lalu menghitung mundur, memberi aba-aba.

Bersiap Mendarat
Sesaat Sebelum Mendarat

Dalam satu hentakan kuat keranjang tadi terasa menyentuh tanah, terseret beberapa saat.

Kemudian tenang.

Safely Landed! Woohoo!
Lokasi Pendaratan

Penumpang lalu diperbolehkan berdiri dan bergerak keluar keranjang. Saya periksa kembali barang-barang, lalu melompat ke luar.

Kaki saya sudah kembali berpijak di daratan. Saya hembuskan nafas lega, lalu tertawa.

Syukurlah, semua aman-aman saja.

Syukurlah, bayangan buruk di kepala saya tak sampai menjadi nyata.

Langit sudah sepenuhnya terang. Petugas mulai mengemas kantong-kantong balon yang telah kuncup.

Kantong Balon yang Tak Lagi Kembang

Beberapa petugas lain ternyata sudah diperintahkan berkumpul di titik pendaratan. Para penumpang kemudian diarahkan menuju kursi-kursi dan meja penuh makanan yang sudah disediakan.

Pesta penyambutan sudah disiapkan.

Cheers, Everyone!

Berkumpul Mengelilingi Meja Makan
Buah dan Cemilan
Pilihan Minuman
Cheers!

32 comments

  1. Bagus tulisannya!
    Alurnya enak dibaca, bikin ngerasa ikut deg-degan mau naik balon udara. Apalagi bagian “Balonku”. Wkwkwk. Sebelumnya ngga pernah ngebayangin naik balon udara akan semenegangkan itu. Fotonya juga cakep-cakep euy…
    Ketemu Sherina ngga di sana, Bang? Katanya dia suka naik balon udara dari Tembok Cina sampe Eiffel. Ga lewat Bagan ya.

    Liked by 2 people

    1. Jadi ngedengerin ulang lagunya buat ngecek liriknya. Ternyata bener ga lewat Bagan, hahaha.

      Makasih banyak, mas Iyos. Ternyata dishare di twitternya mas Iyos ya? Thanks ya, Mas! Masih tahap belajar ini nulisnya, doakan bisa makin mendingan tulisannya hehe.

      Like

  2. cepet bener baaanggg. baru kemarin posting alhambra hahahaha. apakah masih dalam rangka bayar hutang?

    pas bagian pagi menunggu jadwal naik, aku merasa kayak nggak asing suasananya. kayak di Bromo mungkin. jadi ada rombongan-rombongan yang menyewa satu jeep bersama gitu.

    Liked by 1 person

    1. Hahaha.. iya nih mas..

      Ada 2 sebab:
      1. Belakangan abis liat detail tagihan domain blog. Lumayan juga ternyata ya kalo dianggurin dan ga ditulisin apa-apa. 😅
      2. Jadinya lanjut ngubek2 laptop dan ternyata nemu banyak draft tulisan yang udh lama kesimpen tapi ga diposting2.

      Gara-gara 2 itu makanya jd semangat lagi mosting tulisan, mumpung WFH belum kelar 😀
      Semoga besok2 bisa lebih konsisten nulis dan postingnya. Kerasa bgt kalo lama ga nulis kualitas tulisan kok makin cetek :))

      Nah kalo soal kendaraannya memang mirip2 sama yg di Bromo konsepnya. Satu kendaraan utk beberapa penumpang. Mirip juga sama layanan antar jemput jeep-jeep yang dipake buat wisata vulcano di Merapi, mas.

      Liked by 1 person

  3. Bacanya ikut ngerasa degdegan haha. Balon udara salah satu alat transportasi yang belum pernah aku coba. Penasaran juga. Kalau di Turki mahal, mungkin bisa coba yang di Bagan ini ya, yang mungkin agak sedikit lebih murah (btw, biayanya berapa ya? haha).

    Pemandangan dari atas luar biasa banget.

    Liked by 1 person

    1. Sepanjang cuaca cerah dan ga ada angin, harusnya aman ya (mudah-mudahan hehe). Saya sempat baca juga statistik jatuhnya balon udara sebelum nyoba naik, ternyata jumlahnya memang sangat kecil. Jadi harusnya saya ga perlu terlalu khawatir. Dan pemandangan dari atas memang beda sih sensasinya dibanding waktu melihat pemandangan dari jendela pesawat.

      Kalau di antara 3 provider yang tersedia di bagan (merah,kuning, hijau), yang paling merakyat itu yang hijau mas. Kalau pake hijau, kita dijemput pake minibus biasa semacam Hi-ace gitu, tapi kalau pake yang merah dijemputnya pake mobil klasik fancy bekas Perang Dunia gitu kalo ga salah. Saya yang proletaar jelas memilih yang biasa aja karena yang penting nyoba sensasi terbangnya aj haha.

      Untuk harga kayanya lebih murah dibanding Turki juga (karena ongkos aja ke Turki udah lumayan, belum lagi dari Turki ke Goremenya).

      Liked by 1 person

  4. Hola mas Ikhwan, maaf baru berkunjung balik yaaa 😁

    By the wayyyyy suka banget sama alur ceritanya. Saya berasa diajak yalan-yalan naik balon udara 😂 padahal saya belum pernah naik yang di Bagan dan ke Bagannya pun belum pernah 😆 tapi setelah baca ini jadi semakin penasaran seperti apa Bagan dan ingin ke sana (wish one day bisa — karena mengumpulkan niatnya yang susah) 🤭

    Terus terussss foto-foto balon udaranya sukaaakkk. Tone warnanya bagus bangetttt, jadi bisa turut merasakan excited dan deg-degannya mas Ikhwan di sana 😆 semoga perjalanan ke Bagan dan naik balon udara menjadi salah perjalanan yang berkesan untuk mas. Ditunggu cerita perjalanan berikutnya 😍

    Liked by 1 person

    1. Halo juga Mba Krim (saya panggil siapa ya soalnya di blognya ga nemu nama Mbanya hehe), makasih juga udah berkunjung dan baca-baca. Semoga nanti bisa nyobain ke Bagan juga ya.

      Terlepas dari balonnya, suasananya asyik juga kok. Terutama buat traveler yang suka wisata budaya. Ibukota negaranya sendiri (Yangoon) meskipun mungkin belum semaju ibukota negara-negara semacam Singapura atau Malaysia, tapi cukup berkesan karena menawarkan sesuatu yang berbeda.

      Terima kasih banyak Mba!

      Like

  5. Keren parah sih tulisan-tulisannya. Shootnya sedap-sedap. Narasinya hidup banget. Saya menikmati sekali postingan ini.
    Jadi ikut-ikutan jantungan juga haha.

    what a wonderful experience!
    Ah, saya jadi makin penasaran sama Bagan.

    Semua tentang wisata balon udara selalu menarik perhatian saya. Sayang dulu pas singgah di Cappadocia saya cuman nonton dari bawah ga naik balonnya. Bukan karena takut ketinggian, karena nggak prepare budget wkwk. Itu pun sudah bahagia banget.

    Naik balon di bagan sudah menjadi bucketlist saya kalau diberi kesempatan ngetrip ke Myanmar.

    Btw, perlu nyiapin budget berapa ya mas untuk ikut naik balon udara?
    Noted nihh bulan November terbaik ya.

    Pertama kali berkunjung di blog ini.
    Salam kenal, mas ikhwan!

    Liked by 1 person

    1. Halo mas Rifan, makasi banyak udah berkunjung dan nyempetin baca tulisannya hehe. Blognya bagusan diaktifin tombol follownya mas, biar pembacanya yang berbasis wordpress bisa follow dan baca di Reader. Soalnya pas kemaren berkunjung ke situ, ga muncul tombolnya. Jadinya baru bisa follow setelah ada komen dari mas Rian di sini.

      Anyway, Bagan boleh banget tuh mas dimasukin ke bucket list yang mau dikunjungin. Kalaupun ga naik Balon, bisa puas eksplor pagodanya juga.

      Saya baca yang postingan mas Rifan pas ke Cappadocia itu. Baru ngeh kalau cukup jauh ya ternyata dari Istanbul.

      Bener mas, November termasuk salah satu jadwal yang paling oke buat naik balon di Bagan karena kondisi cuaca yang lagi bagus-bagusnya. Providernya cuma nerbangin balon dari bulan Oktober sampe April kalo ga salah karena menghindari musim angin. Kalau untuk bajet balonnya sendiri berbeda-beda tergantung provider. Yang ijo ini salah satu yang nawarin harga cukup reasonable, dulu (2 tahun lalu) biayanya 280 usd (kurs 13k). Sekarang kayanya jadi 399 usd :(((

      Like

  6. Haduh mewaaaaaaaah iniiiii, aku ke Bagan dua kali hanya puas keliling pake sepeda listrik sewaan hahaha. Dulu pertama kali ke sana eh mendung jd gak ada balon terbang, Kedua kalinya udah naik sepeda sendiri, gelap-gelap, nyari spot sunrise, dan tiba-tiba hujaaaaaaan wkwkwkwkw. Siyaaalllll.

    Liked by 1 person

    1. Wah terima kasih udah main ke sini dan nyempatin baca, Mas!

      Sepeda listriknya asik tapi kan, hehe. Pertama make kaya bingung ini motor apa sepeda, kalo motor tapi kok ga berisik. Tapi lama-lama seru juga, memudahkan buat keliling candi-candi yang nyebar di area luas gitu.

      Berarti ntar pas ke sana buat ketiga kalinya bisa dicoba tuh mas. :))

      Like

  7. Huaaaaa ngences banget baca catatan ini. Myanmar jadi PR buatku untuk menuntaskan trip ke seluruh negara Asean. Sebenarnya waktu itu udah punya tiket ke Yangon sih, tapi aku cancel karena ada tugas kantor.

    Pengen banget pergi ke Bagan dan lihat candi-candi di sana. Gak jadi ke Myanmar karena tugas, eee diganti tahun berikutnya punya kesempatan main ke Turki. Jadilah bisa menikmati balon udara di Cappadocia.

    Packagingnya sama kok. Pagi dijemput operator pake minivan, dikasih sarapan, terbang, lalu ada sampanye dan snack. View-nya aja yang beda, kalau di Myanmar viewnya candi, kalau di Goreme, Cappadocia viewnya karst batu-batu berusia ribuan tahun. Semoga suatu saat kesampaian mengunjungi Turki ya. Happy travels 😁🙏

    Liked by 1 person

    1. Mantul, berarti Asean tinggal Myanmar aja yang belum ya Mas?

      Berarti konsep balon di Myanmar ini emang “nyontek” konsep yang di Turki ya. Tapi mungkin kalau udah ngerasain ke Cappadocia kayanya pemandangan balon udara di Myanmar jadi biasa aja ya? :))

      Aamiin, semoga suatu hari bisa ke Goreme juga mas. Belum pernah euy haha.

      Like

      1. Wah gak tau juga ya kalo itu. Cuma, kayaknya balon Cappadocia udah lebih dulu eksis. Btw, pas ke Turki emang gak sekalian ke Cappadocia ya waktu itu?

        Iya nih, setelah covid19 selesai mungkin akan ke Myanmar. Masih riweh sekarang mau ke luar negeri. Riweh di bandaranya hehehe 🙂

        Liked by 1 person

        1. Bener, Mas Adie. Balon Cappadocia termasuk salah satu pionir dalam wisata balon-balonan ini. Dulu saya ke Turki emang ga ke Goreme, mas. Muahal hahaha…

          Bener, sekarang kalau ke Malay dan SG aja katanya perlu ada duit jaminan untuk memastikan pengobatan di sana kalau ternyata kita terjangkit. Belum lagi prosedur di bandara dan syarat buat bisa beli tiket yang harus nunjukin hasil tes dan surat macem-macem.

          Btw blognya emang didelete ya Mas? Saya coba akses ga bisa soalnya.

          Like

  8. Salah satu tempat yang pingin banget kami kunjungi karena pingin coba naik balon udara (karena seperti kata Omnduut, yang di Kapadokya kan meholita ya hahaha). Makasih banyak ulasannya. Foto dari atas balon udaranya duh bikin tambah pingiiinn!

    Liked by 1 person

    1. Hahaha bener banget, pertimbangan harga jadi salah satu alasan. Mungkin karena yang di Turki sudah sangat terkenal ya, jadinya demand cukup tinggi dan otomatis harga naik :))

      Terima kasih juga Mba dan Masnya, semoga begitu pandemi kelar bisa mulai berburu tiket ya!

      Like

  9. wahh aku Januari kemarin naik ini juga di Bagan, pilotnya cewe namanya Lea dan dia ada juga di foto di atas 😀 Bener-bener salah satu breathtaking experience ya, gak nyesel sama sekali meskipun awalnya ragu karena bayarnya mahal wkwkwk. Tapi agak sedih juga mengingat kayaknya ke Myanmar kemarin adalah traveling ke luar negeri pertama dan terakhir di 2020 ini karena kondisi COVID yang makin gak jelas ini 😦

    Liked by 1 person

    1. Wah berarti naik balon ijo juga ya? 😀
      Iya, lumayan sih nabungnya, tapi buat pengalaman sekali seumur hidup bolehlah hehe.
      Semoga cepat kelar sih ini covid, jadi bisa bebas kemana-mana lagi (walaupun kayanya masih lama ya hahaha..)

      Like

  10. Mantap mas, liat dan bacanya aja seneng apalagi ikutan melayang..,, tremor saya kumat pastinya pas naik 😀

    Merah kuning hijau di langit yang biru…,
    Balon hijaunya gak meletus karena tidak bisa digenggam erat-erat mas.., lagian pilotnya juga si Pep, ahli tikitaka kan dia?.

    Liked by 1 person

Leave a Reply to omnduut Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: