Eropa Spanyol

Senjakala Andalusia: Yang Tersisa dari Alhambra

Boabdil menarik kekang kudanya, perlahan berhenti di jalanan tanah menanjak yang meretas bukit hijau kecil di perbatasan Granada. Kakinya melangkahi pelana kemudian menapak di tanah yang kering. Tangannya lalu menambatkan tali kuda ke satu pohon di tepian jalan.

Lakunya diikuti oleh sang Ibu, yang setia mendampingi dalam perjalanan mereka menuju Fez, Maroko,  bersama keluarga,  pengawal, dan pelayan yang setia.

Pria 32 tahun itu tercenung, menurunkan kain yang menutupi kepalanya, lalu memandang lepas ke kaki bukit. Ditatapnya padang rumput hijau yang membentang berlatar rumah-rumah penduduk yang sebagian luluh lantak karena pertempuran.

Matanya menyapu teduh hijau yang menyatu dengan lazuardi di horizon, sebelum akhirnya pandangan itu tertumbuk pada bayang samar bangunan merah di kejauhan.

Alhambra.

DSC01137
Alhambra dari Kejauhan

Benteng sekaligus istana, di mana ia pernah tinggal dan memimpin Granada satu dekade lamanya.

Boabdil tersengal.

Memandangi istana merah yang berkilau tertimpa matahari mengoyak lagi luka menganga dalam jiwanya. Tak pernah dalam hidupnya ia merasa segagal itu: mendapati diri menjadi orang yang bertanggung jawab atas runtuhnya peradaban yang dulu dengan susah payah dipertahankan Ayahnya, Abu Hasan Al Ali.

Kesedihan memaksanya berlutut di tepi bukit, menumpu badan pada tangan, lalu menghela nafas panjang. Tangannya meremas tanah menahan geram, dan tanpa disadari, matanya berlinang.

Beban berat menyesak di benak Bombadil. Ia, adalah mata rantai terlemah, yang menjadi musabab putusnya rantai kuat dinasti Muslim Moor yang telah memimpin Andalusia selama 700 tahun tanpa terjamah.

Dirinya, Boabdil -atau Muhammad XII-, Emir Granada terakhir, terpaksa menyerahkan kunci Alhambra sebagai benteng terakhir kekuasaan bangsa Moor di Spanyol pada Ratu Isabella dan Raja Ferdinand dari Castile, sekaligus menandai terhapusnya kekuasaan Islam di Andalusia.

Boabdil
Boabdil, Emir Terakhir Granada (Sumber: GranadaDigital)

Boabdil terdiam cukup lama.

Aisha binti Muhammad Ibnu Ahmar, Ibunya, kemudian mendekat menghampiri sang putra yang masih terisak. Tangannya perlahan terjulur lalu berdiam di bahu Boabdil.

“Anakku,” ujarnya pelan.

“Sudahlah. Tak perlu kau tangisi layaknya perempuan, apa yang tidak bisa kau pertahankan sebagai seorang laki-laki.”

Hening.

Hanya terdengar suara burung berkicau pelan.

Hari itu, suatu siang di tahun 1492, Andalusia resmi tinggal nama.

Kata-kata Aisha tadi bergaung hingga ratusan tahun berikutnya. Sementara, jalan tanah di mana Boabdil berhenti dan meratapi nasibnya belakangan dikenal sebagai Puerto del Suspiro del Moro, atau Pass of the Moor’s Sigh – Lintas Kesah Bangsa Moor.

19018131
Puerto del Suspiro del Moro (Sumber: Mapio.net)

ANDALUSIA

Lima abad berlalu.

Saya berjalan pelan di kota yang sama, menyusuri wilayah yang pernah menjadi saksi kejayaan peradaban Islam di Eropa.

DSC01430
Granada, Spanyol, Abad 21

Lima ratus tahun sebelumnya, Andalusia, yang wilayahnya membentang di Semenanjung Iberia, meliputi hampir seluruh Spanyol dan Portugal hingga perbatasan Perancis di utara, berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan budaya.

Saat Eropa terpuruk dalam wabah, kekerasan, dan buta aksara, kota-kota di Andalusia seperti Granada dan Cordoba, disesaki ribuan cendikia serta dipenuhi puluhan pustaka.

Ragam konsep dan teori, entah trigonometri atau astronomi, lahir dari diskusi-diskusi cerdas di sela tumpukan buku dan manuskrip di lorong-lorong kota.

Jalanan kota dilapisi batu dengan penerangan dan sanitasi di kedua sisinya. Sementara, empat kepercayaan utama, Islam, Kristen, Yahudi, dan Paganisme, hidup berdampingan dalam harmoni yang di masa sekarang mungkin terlalu indah untuk jadi nyata.

Mereka yang bukan muslim saat itu diberi status Ahluddhimma -Orang-orang dalam perlindungan-, sementara yang menganut Paganisme diberi status Majus. Keduanya diberi hak sama dengan bangsa Moor yang berkuasa.

Saya mengingat semua itu dalam perjalanan menuju Alhambra. Mencoba memanggil kembali memori lama dari buku-buku seputar Andalusia yang pernah saya baca.

Siang itu terik.

Cahaya matahari Spanyol di musim panas ternyata tetap menggigit kulit saya yang jelas-jelas terbiasa dengan garangnya surya khatulistiwa. Padahal baru lima menit saya turun dari bus yang membawa ke perhentian terdekat dari Alhambra.

DSC00997
Stasiun Bus Kota Granada, Spanyol
DSC01002
Tipikal Bus dan Haltenya di Granada

Ramai.

Ada banyak pengunjung mancanegara yang berjubel, sepertinya punya maksud yang sama:  menjelajah dan menikmati keagungan Alhambra. Keramaian itu meyakinkan saya bahwa Alhambra memang memegang predikat sebagai lokasi wisata yang paling banyak dikunjungi di Spanyol.

Tak lama berjalan, saya sudah berada tepat di depan gerbang masuk komplek istana merah tersebut. Tulisan Alhambra dalam aksara latin dan arab berwarna kelabu terpasang di dindingnya, separuh tertutup oleh tanaman rambat.

DSC01006
Gerbang Masuk Komplek Alhambra

Tak jauh dari sana, terdapat beberapa counter tiket yang juga sudah penuh pengunjung. Ada beberapa jenis tiket yang tersedia: kunjungan siang, kunjungan malam, akses taman saja, atau akses istana saja.

Beruntung saya sebelumnya sudah memesan tiket secara online sehingga saya cukup menukarkan bukti pembelian di counter khusus yang tersedia. Tak berapa lama, petugas menjulurkan tiket beserta brosur yang dilengkapi peta kawasan Alhambra kepada saya.

DSC01009
Counter Tiket Alhambra

ISTANA MERAH BERNAMA ALHAMBRA

Alhambra merupakan satu kawasan benteng dan istana, dengan luas total mencapai 11 hektar. Berdiri di area perbukitan, situs ini terdiri atas 30 menara, beberapa taman, serta puluhan bangunan. Keseluruhan area dikelilingi tembok dengan panjang dinding bangunan mencapai lebih dari 1000 meter.

DSC01147
Sebagian dari Komplek Alhambra

Saya lirik peta di tangan.

Terdapat dua zona utama di Alhambra: Komplek istana utama di sisi kiri gerbang masuk, serta taman peristirahatan bernama Generalife di sisi kanan.

Butuh sekitar 20 menit berjalan kaki dari gerbang untuk mencapai Generalife. Dari sana, pengunjung harus kembali ke gerbang masuk tadi untuk kemudian berjalan kaki 30 menit ke arah komplek istana utama.

Alhambra-map
Peta Kawasan Alhambra (Sumber: Alhambra.info)

Bangunan-bangunan di Alhambra didirikan sejak abad ke sembilan dengan gaya arsitektur islam yang kental, diimbuhi ragam pengaruh budaya Moor, Turki, Afrika, Mediterania, Arab, dan Persia.

Desain, mozaik, dan detail yang memikat mata terpasang sempurna pada bangunan-bangunan berwarna coklat kemerahan. Awalnya bangunan di sini dicat putih mengkilat. Namun, seiring usia, warna putih tersebut pudar dan digantikan warna asli bata. Dari warna kemerahan tembok-tembok itulah Alhambra memperoleh namanya.

Alhambra dalam Bahasa Arab memang bermakna “merah”.

GENERALIFE

Lokasi pertama yang saya sambangi adalah Generalife, taman peristirahatan yang dibangun berundak dan dilengkapi dengan sebuah istana khusus sebagai tempat beristirahat para penguasa.

Nama Generalife sendiri disebut berakar dari Bahasa Arab yang bermakna Kebun Para Arsitek.

“Ini adalah Dorne di dunia nyata!”, gumam saya, sesaat setelah memasuki Generalife.

Dorne yang saya maksud tentu saja nama sebuah kerajaan tropis fiktif dalam kisah Game of Thrones karangan George RR Martin, yang diceritakan penuh dengan kebun-kebun bunga dan bermandi mentari sepanjang tahun.

Pohon-pohon elm rimbun ditanam sedemikian rupa di sisi jalan, diselingi rumpun bugenvil, bunga mawar, dan pohon-pohon jeruk. Meskipun saat itu terik, Generalife anehnya terasa semilir dan teduh.

Letih sama sekali tidak terasa saat saya melangkah, meskipun jalanan di taman ini cenderung mendaki.

Dari taman ini, komplek utama Alhambra dapat terlihat dari kejauhan. Luas dan memesona.

DSC01151
Komplek Utama Alhambra Dilihat dari Generalife

Gemericik air terdengar sepanjang perjalanan. Saya perhatikan ternyata terdapat saluran dari batu yang tak henti mengalirkan air. Di beberapa titik terdapat air mancur yang memancar dari kolam kecil yang terbuat dari batu berukir.

DSC01046
Saluran Air Sekaligus Kolam
DSC01061
Kolam Kecil dengan Air Mancur

Di bagian puncak bukit Generalife berdiri sebuah istana bernama Palacio de Generalife.

Dinding istana ini berplester putih dengan sebuah taman dan kolam di bagian tengah. Tamannya sendiri tidak terlalu luas, namun cukup sejuk dengan air mancur berjejer bersisian di tepian kolam menyemburkan air tanpa henti.

Satu hal menyita perhatian saya seketika.

Detail ukiran pada dinding, pilar, dan langit-langit istana.

Ragam ukiran kaligrafi dilingkupi bunga-bunga tercetak sempurna di sana.

Saya tak sanggup membayangkan kerja keras dan dedikasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ornamen sedetail dan sekompleks itu, bahkan dengan standar teknologi saat ini.

DSC01073
Barisan Air Mancur di Generalife
DSC01128
Sesudut Kolam dengan Pancuran
DSC01094
Pemandangan Rumah Penduduk Granada dari Generalife

Ingin rasanya berleyeh-leyeh menikmati sepoi angin sambil menatap rumah-rumah penduduk dari selasar Generalife. Namun, masih banyak area Alhambra yang harus dijelajahi.

Saya putuskan kembali melangkahkan kaki.

MEDINA

Bagian selanjutnya dari Alhambra adalah Medina. Nyaris serupa dengan Generalife, Medina merupakan taman yang dibangun khusus untuk menghubungkan kawasan Generalife dengan komplek utama.

DSC01179
Area Medina
DSC01181
Dinding Hijau Pepohonan Medina

Saya tak paham jenis pohon apa yang tumbuh di kiri kanan jalur Medina yang di-paving rapi. Tak ada informasinya di brosur yang saya punya.

Yang jelas pepohonan menyerupai bonsai tersebut tumbuh tinggi dan dipotong rata di setiap sisi. Akibatnya, muncul ilusi dinding hijau tanaman yang berdiri kokoh di sepanjang jalanan Medina menuju istana.

Kawasan Medina ternyata membentang cukup panjang. Di beberapa tempat terdapat sisa-sisa pondasi bangunan yang sudah roboh. Puluhan bangunan lainnya masih tegap berdiri. Bangunan-bangunan ini dulunya merupakan tempat berdiam penjaga, prajurit dan para pelayan yang bekerja di Alhambra.

DSC01183
Sisa  Pondasi di Medina

Di ujung kawasan Medina terdapat toko-toko cenderamata, rumah-rumah, serta bangunan umum lainnya.

DSC01188
Toko Cenderamata
DSC01189
Tipikal Bangunan di Area Medina

Area Medina berakhir di bangunan kotak bernama Palacio De Carlos V.

PALACIO DE CARLOS V

Berbeda dengan bangunan-bangunan lain di Alhambra, Palacio de Carlos V menganut langgam arsitektur khas Romawi.

Wajar, karena bangunan ini tidak ada dalam desain awal saat Alhambra dibangun oleh dinasti Moor. Ia dibangun belakangan, pada tahun 1527, atas perintah Kaisar Roma, Charles V, yang menginginkan kediaman pribadi di dalam komplek Alhambra pada masa kekuasaan monarki katolik di Granada.

DSC01191
Palacio de Carlos V

Dari luar, Palacio de Carlos V hanya terlihat seperti bangunan kotak dengan detail sisi luar yang unik. Fasadnya terlihat seperti tumpukan bata raksasa dengan jendela-jendela bulat dan kotak berkaca gelap.

DSC01192
Fasad Luar yang Unik

Ternyata pada bagian tengah bangunan ini terdapat plaza melingkar, menyerupai plaza-plaza di Roma atau Vatican. Sayangnya saya tidak berkesempatan memasuki area plaza ini karena saat saya datang Palacio de Carlos V sedang ditutup untuk pengunjung.

DSC01193
Merpati di Halaman Palacio de Carlos V

ALCAZABA

Perjalanan menelusuri kejayaan Alhambra saya teruskan ke bagian tertua dari seluruh kawasan ini. Alcazaba namanya.

Area ini pada suatu masa pernah menjadi tempat tinggal Boadbdil, sang penguasa. Namun, saat bangunan utama istana selesai didirikan, Alcazaba sepenuhnya difungsikan sebagai benteng pertahanan melawan serangan musuh.

DSC01200
Tampak  Luar Alcazaba

Terdapat beberapa menara di Alcazaba. Seluruhnya dapat digunakan untuk mengamati segenap penjuru kota Granada.

DSC01214
Komplek Alcazaba Memiliki Beberapa Menara di  Sekelilingnya

Menara tertinggi di sini dinamakan Watch Tower, dengan ketinggian empat lantai dan pos-pos pasukan pemanah yang siap sedia di setiap lantainya. Disebut bahwa pada masa Monarki Katolik, di dalam menara inilah Columbus si  penemu benua Amerika, meyakinkan dewan gereja dan Monarki Katolik untuk menyetujui dan membiayai ekspedisinya ke “Barat”.

DSC01215
The Watch Tower

PALACIO NAZARIES

Setelah lama berkeliling, saya akhirnya sampai di lokasi utama dari seluruh komplek Alhambra: Palacio Nazaries atau Nasrid Palaces.

Area ini merupakan jantung dari seluruh Alhambra. Di sinilah tempat bermukimnya Emir Granada saat memimpin wilayah ini di masa lalu.

Untuk membatasi kepadatan pengunjung dalam satu waktu, kawasan ini hanya bisa dikunjungi pada jam-jam tertentu sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

DSC01217
Antrian Memasuki Nasrid Palaces
DSC01220
Salah Satu Pintu Masuk Nasrid Palaces

Dirancang dengan detail yang sempurna dan presisi yang luar biasa, Nasrid Palaces menjadi tempat yang yang tenang dan sangat cocok bagi Emir Granada untuk bertempat tinggal maupun memikirkan kebijakan-kebijakan politiknya.

DSC01299
Nasrid Palaces

Di setiap sudut terpampang ciri arsitektur Islam berbalut nuansa Persia dan Mediterania: langit-langit melengkung, gerbang-gerbang lebar, serta pilar-pilar yang tak terhitung jumlahnya.

Bahkan dengan standar arsitektur saat ini, Nasrid Palaces tetap mendatangkan decak kagum dari mereka yang menyaksikan keindahannya.

Ruangan-ruangan di dalamnya dibangun dengan proporsi sempurna. Dinding-dinding diberi plester putih dan ditutupi ornamen keramik, dengan ukiran kaligrafi dan floral yang sangat mendetail hingga ke langit-langit.

Di bagian tengah istana terdapat area terbuka bernama Courtyard of the Myrtles -merujuk pada rumpun-rumpun bunga myrtles yang ditanam di sekelilingnya.

DSC01264
Courtyard of the Myrtles

Tepat di tengah area terbuka ini, terdapat kolam sepanjang 40 meter dengan lebar 7 meter berlapis marmer dan dikelilingi rumpun myrtles.

DSC01274
Kolam di Tengah Courtyard of the Myrtles

Ada beberapa bagian utama dari Nasrid Palaces yang bisa diakses pengunjung.

Lokasi pertama yang bisa dimasuki adalah El Mexuar. Tempat ini merupakan aula bertingkat dua yang paling awal dibangun dan menjadi tempat pertemuan para Menteri.

DSC01224
El Mexuar, Ruang Pertemuan Para Menteri
DSC01226
Langit-langit yang Terbuat dari Kayu Berukir

Area berikutnya bernama Palacio de Comares dan menjadi tempat Emir bermukim.

Ada banyak sekali kamar dan ruangan di sini. Puluhan pilar berukir berdiri rapi di sepanjang selasar. Sebagai sentuhan akhir, detail-detail ukiran dilapisi dengan cat berwarna gading dan emas.

Saya bergeser ke bagian selanjutnya: Palacio de los Leones atau Lion’s Palace.

Kawasan ini merupakan area privat yang didiami oleh keluarga Emir, dengan satu plaza di bagian tengah, lengkap dengan kolam marmer yang ditopang oleh patung-patung singa betina.

DSC01280
Palacio de los Leones
DSC01298
Kolam dengan Patung-patung Singa yang Menopangnya
DSC01311
Deretan Pilar Berukir

Jika Palacio de Comares memiliki keruwetan dan detail arsitektur yang mencolok, Palacio de los Leones dirancang lebih sederhana dan polos, meskipun corak ukiran tetap terlihat di sana sini.

Terdapat dua Hall atau ruangan besar yang memegang posisi penting di Nasrid Palaces: Hall of the Boat dan Hall of the Ambassadors.

Hall of the Boat merupakan semacam ruang tunggu bagi para tamu yang hendak bertemu Emir. Langit-langitnya berbentuk oval dengan lagi-lagi ukiran floral. Bagian dalam langit-langit ini dibuat dari kayu cedar dengan kualitas terbaik yang mampu bertahan ratusan tahun.

DSC01315
Hall of the Boat
DSC01334
Salah Satu Jendela di Hall of the Boat

Sementara, Hall of the Ambassadors merupakan ruang di mana Emir bertahta, sekaligus tempat ia menemui tamu-tamu dan mengadakan acara resmi.

Ruangan berbentuk persegi ini dibangun dengan tinggi langit-langit mencapai 18 meter dengan lantai yang dulu sepenuhnya dilapisi marmer mengkilat.

DSC01335
DSC01339
DSC01340

Nyaris seluruh bagian dinding, gerbang, dan pilar di sini dihiasi ukiran potongan ayat Alquran atau puisi. Dari seluruh tempat di Alhambra, ruangan ini merupakan lokasi termewah dengan dekorasi paripurna.

Tak lupa, layout jendela diatur sedemikian rupa sehingga cahaya dari luar jatuh tepat menimpa  posisi singgasana Emir, menimbulkan efek intimidatif bagi siapa saja yang hendak bertemu.

DSC01343
Pemandangan Taman dari Balik Jendela Hall of the Ambassadors

Saat berada di Generalife, saya merasa detail arsitektur di sana sudah sangat luar biasa. Ternyata, saat berkunjung ke Nasrid Palaces, keindahan Generalife tadi terasa tidak ada apa-apanya.

DSC01336
Detail Ornamen di Hall of the Ambassadors

Sungguh, memasuki Nasrid Palaces membuat saya seketika membayangkan bagaimana dulu, sudut-sudut koridor dan ruangan Alhambra pernah dipenuhi orang-orang, dan diwarnai kehidupan para bangsawan.

Mengagumkan.

PARTAL

Area terakhir yang dapat dijelajahi pengunjung di Alhambra bernama Partal, sebuah taman yang dapat ditemui dalam perjalanan keluar komplek Alhambra.

Masih dengan konsep bangunan tropis yang sama dengan area lainnya, di lokasi ini terdapat kolam dan pohon-pohon palem, dengan Ladies Tower sebagai bangunan utama.

DSC01366
Kawasan Partal
DSC01377
Taman di Area Partal

Kawasan Partal ini merupakan yang paling terakhir dibangun di Alhambra. Usianya kurang dari dua abad sehingga kondisinya masih sangat bagus dibandingkan lokasi lainnya. Kolam di tengah Partal dibangun tanpa air mancur dan hanya memantulkan bayangan dari bangunan dan pepohonan di sekitarnya.

DSC01381
Ladies Tower

Tak terasa sudah tiga jam saya bertualang menyusuri apa yang tersisa dari Alhambra.

Menyaksikan istana dan taman-tamannya terasa membukakan mata.

Menyadarkan bahwa tahta adalah satu hal yang fana.

DSC01357
Sebagian yang Tersisa  dari Alhambra
DSC01354
Taman Bunga dan Air Mancur

Menatap Alhambra dengan segala pesonanya, semakin mengukuhkan fakta bahwa kekuasaan bisa saja hilang dalam satu kedipan, dan kejayaan tak lain hanyalah titipan.

Tak ada yang sanggup menjamin apa yang kita miliki hari ini akan tetap kita kuasai hingga tua nanti.

DSC01321
Secuil Keindahan Arsitektur Alhambra
DSC01308
Istana yang Dirancang dengan Detail Sempurna

Satu hal yang saya syukuri, siapa pun yang dulu bergantian bertahta di Alhambra, telah berbesar hati membiarkan dan memelihara kemegahan bangunan yang diwariskan peradaban sebelumnya.

Beberapa bagian mungkin dihancurkan atau rusak ditelan zaman. Namun, sebagian besar masih dipertahankan, dirawat, dan diperbarui, sehingga masih dapat dinikmati oleh generasi sekarang dan (semoga) juga oleh generasi mendatang.

DSC01328
Sampai Berjumpa  Lagi, Alhambra!

Matahari kian beringsut ke barat, gerbang keluar sudah terlihat.

Waktunya rehat.

14 comments

  1. baca tulisannya cuma bisa “wow” keren banget ini kompleks.
    membayangkan betapa luasnya, detil ornamennya, fasad dan langgam desain arsitekturnya, sampai bagaimana cerita sejarahnya, sangat komplit.
    dan memang benar, bersyukur rasanya bangunan semegah ini tidak dihancurkan oleh penguasa selanjutnya, mengingat umumnya penguasa selanjutnya menghancurkan jejak-jejak penguasa sebelumnya agar tidak ada yang mengenang kembali.

    Liked by 1 person

    1. Sayangnya di kita seringnya bangunan-bangunan lama, terutama yang dibangun jaman kolonial dulu malah dihancurin terus diganti bangunan modern ya, Mas.

      Syukurnya bangunan-bangunan buatan nenek moyang kaya candi gitu masih relatif terawat hehe.

      Liked by 1 person

  2. Sekilas tak menyangka bangunan seperti ini ada di Eropa, kawasan yang kadung melekat sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya Kristen dan Katholik 🙂

    Sejak pertama melihat Alhambra di majalah anak-anak dan di film Cahaya Islam di Eropa pengen ke Spanyol buat ke Alhambra 🙂 Aku penasaran liat bekas masjidnya da yang katanya juga sangat megah…

    Liked by 1 person

    1. Aaamiin, Mas. Semoga suatu hari juga diberikan kesempatan yang sama ya, ada niat dan doa biasanya pasti kesampean hehe.

      Terima kasih juga udah nyempatin baca tulisannya, Mas Frans!

      Like

  3. Salam kenal, Mas? Saya kali pertama berkunjung ke blog ini. Ada postingan paling baru, tapi saya lebih memilih membaca postingan soal Alhambra ini.
    Seorang teman dari Majenang, Cilacap, dulu pernah bercerita perihal perpustakaan pribadinya. Nama perpustakannya adalah Alhambra. Ketika saya tanya apa maksud Alhambra? Dia bilang mengacu pada sebuah peradaban yang pernah jaya di Andalusia tempo dulu. Saya cuma mengangguk, sebab saya tak taahu persis Alhambra.

    Mumpung Mas Ikhwan sudah berkunjung kesana, saya nitip satu pertanyaan: Apakah ada perpustakaan di Alhambra?

    Maturnuwun…
    Salam…

    Liked by 1 person

    1. Halo Mas Sukman, terima kasih udah main ke sini, semoga betah hehe.

      Mungkin untuk sedikit gambaran, Alhambra ini adalah bekas benteng dan istana yang sekarang dialihfungsikan menjadi museum. Alhambra ini ada di Granada, salah satu kota yang dulu jadi bagian dari peradaban Andalusia. Jadi, mungkin lebih tepat bila Granada disebut sebagai salah satu bukti majunya peradaban Islam di wilayah Andalusia pada zaman dahulu. Setahu saya, Alhambra sendiri tidak pernah dikenal sebagai istilah atau rujukan untuk sebuah peradaban.

      Soal perpustakaannya, dulu saat Alhambra masih berfungsi sebagai istana dan benteng, di bagian Palacio de los Leones (kediaman keluarga) dan Palacio de Comares (tempat tinggal Sultan) katanya terdapat perpustakaan untuk sultan dan keluarganya. Di Granada sendiri pada masa keemasan Andalusia banyak sekali bangunan perpustakaan yang diisi koleksi buku-buku ilmiah.

      Pada zaman sekarang, di dalam Alhambra sendiri seingat saya sudah tidak ada lagi ruangan yang difungsikan sebagai perpustakaan. Namun, di dekat taman Generalife (masih berdekatan dengan komplek Alhambra) sudah didirikan perpustakaan bernama Biblioteca de la Alhambra. Gedung kecil perpustakaan ini menyimpan koleksi buku-buku tentang sejarah Ahambra, termasuk koleksi buku-buku ilmiah yang berasal dari masa Andalusia, termasuk manuskrip-manuskrip yang dulu pernah disimpan di dalam Alhambra.

      Begitu kira-kira, Mas. Salam buat temannya ya, semoga suatu hari bisa berkunjung langsung ke Alhambra juga.

      Like

  4. Ini…. Dorne, Mas Ikhwan. 😀 Tapi, lokasi syuting GoT sepertinya di Sevilla ya, Mas?

    Ini pertama kalinya saya baca tulisan perjalanan ke Andalusia. Saya penasaran melihat daerah itu karena cerita Santiago di The Alchemist, Mas. Tapi kisah Santiago sepertinya lebih banyak berlatar di padang rumput dan kota-kota kecil. Omong-omong, dalam perjalanan ke sana Mas Ikhwan melihat padang gembala-kah? 😀

    Dan terima kasih sudah menulis soal rumput myrtle, Mas. Akhirnya saya mengerti sedikit soal asal kata dari nama Myrtle Merana di Harry Potter. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: