Sepenggal Lamun di Tanjung Balai Karimun

Sebagai sebuah kabupaten kecil di pelosok Provinsi Kepulauan Riau, nama Karimun masih kalah tenar dari daerah lain dengan sebutan hampir serupa: Karimun Jawa.

Nasib sama dialami Ibukotanya, Tanjung Balai Karimun. Nama kota ini sampai harus diimbuhi kata “Karimun” di belakangnya karena kebetulan punya sebutan identik dengan kota lain, Tanjung Balai, yang berada di Asahan, pesisir timur Sumatera Utara.

IMG-20191103-WA0011

Icon Kota Tanjung Balai Karimun yang Terdapat di Pinggir Laut

Dulu, dalam masa keemasan raja-raja Melayu, Karimun mencelat jadi kota perdagangan berkat gambir, timah, dan bauksit. Raja Ali Haji, sang penguasa, membawa Karimun ke masa jaya di bawah kekuasaan Kerajaan Riau Lingga.

Pun demikian, pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayahnya rutin jadi singgahan tetap para lanun, yang menyimpan harta atau sekedar membuka tenda selepas merompak kapal-kapal niaga yang menyesaki lalu lintas Selat Malaka.

IMG-20191103-WA0014

Perahu Nelayan di Pinggiran Pantai Kota Tanjung Balai Karimun

Dekade berlalu, Karimun dan pulau-pulau kecilnya masih jadi senjata rahasia penyelundup manusia dan dagangan lainnya untuk menyusupkan komoditas tak berizin dari Malaysia dan Singapura, pula sebaliknya.

Tak sedikit juga warga seberang yang berbondong ke Karimun, untuk bekerja di tambang, berdagang, mengundi pundi-pundi di meja judi, hingga mencicipi temaram wisata malam.

IMG-20191103-WA0029

Sesudut Kawasan Coastal Tanjung Balai Karimun

Tapi itu dulu. Seiring harga timah yang melemah, Karimun seolah kehilangan gairah. Kini, meskipun tak layak disebut sepi, Karimun seolah jadi kabupaten yang menjalani hari-hari tanpa obsesi. Bagaimana berharap pembangunan bisa bangkit bila kas daerah terlalu akrab dengan defisit?

Pagi tadi saya sempatkan berlari, atau tepatnya berjalan kaki mencari sarapan, ke kawasan pesisir dan sekitar pelabuhan. Selingkup pusat keramaian di sisi laut ini bersumbu pada jalan poros utama yang sempit, dengan beberapa persimpangan di sepanjang badannya. Daerah inilah yang mula-mula menjadi pusat kota Tanjung Balai Karimun.

IMG-20191103-WA0021

Ruas Jalan Utama Kawasan Pelabuhan

Aura pecinan dan kota tua menguar hebat dari kawasan ini. Toko-toko berdinding papan menggantungkan lampion dan tempat dupa di depan pintunya. Jika mengintip ke ruangan depannya, selalu ada patung-patung Budha ataupun leluhur mereka di sana. Namun, istimewanya, simbol-simbol budaya Tiongkok  di sepanjang jalan juga bersinergi dengan simbol-simbol khas Melayu. Padan dan padu.

IMG-20191103-WA0018

Toko-toko dengan Dupa di Depan Pintu

Seiring langkah kaki, alunan Zapin Melayu dari Lesti berdesir pelan di telinga saya di sela suara aktivitas pagi  kota yang mulai menggeliat (Hey, I’ve been here for weeks! What do you expect me to play on my Spotify, ha? Bosen, kali, denger Yank Haus-nya Duo Tiktok mulu).

Kiri kanan jalanan pelabuhan berdiri ruko-ruko tua khas pesisir Sumatera. Sebagian berdesain tipikal bangunan peranakan, lainnya dibangun dari kayu berciri Melayu. Di antara keduanya, terselip bangunan-bangunan batako lebih baru dengan karakter 60-90an: langit-langit rendah, pintu dorong berjeruji, serta papan nama toko besar tepat di atas pintu masuk.

IMG-20191103-WA0024

Tipikal Ruko Tua

IMG-20191103-WA0025

Kedai yang Menjual Aneka Kuliner Berjejer di Sepanjang Jalan

Ruko-ruko tadi dimanfaatkan untuk berjualan. Pakaian, penganan, hingga kebutuhan harian. Seakan mengakomodasi budaya minum kopi dan bercengkerama di pagi hari yang jamak dianut masyarakat Melayu, warung-warung kopi pun bertebaran.

IMG-20191103-WA0027

Rupa-rupa Kuliner yang Dijual Warga

IMG-20191103-WA0019

Warung Bakmi yang Ramai Pengunjung

Bukan dalam desain baru dan kekinian, warkop-warkop ini terpelihara dalam bentuk aslinya. Bangunan lama, perabotan tua, hingga suasananya, terjaga sebagaimana sedianya di masa lalu.

IMG-20191103-WA0023

Kawasan Pelabuhan di Satu Pagi

Lama melangkah, kaki saya akhirnya terantuk di depan salah satu kedai makanan. Pagi belum terlalu tinggi, saya beranikan diri untuk masuk dan mencari  bangku  kosong di antara meja bundar berbahan keramik dengan kursi kayu yang dipenuhi pengunjung berbagai rupa.

“Menunggu sebentar, boleh?”

Suara perempuan pelayan kedai membuyarkan lamunan saya, memberitahu bahwa pesanan saya belum tersedia.

Kakak tadi, -demikian sapaan buat “mbak-mbak” di daerah ini-, mengenakan jilbab sederhana dan bertutur dalam dialek melayu yang khas: huruf “r” dilafalkan dengan “gh”, huruf “u” dibaca sebagai “o”, semua dirangkai dalam alunan aksen yang biasa kita dengar saat menonton kartun Ipin dan Upin di televisi.

Saya anggukkan kepala, mengiyakan.

Tak perlu lama menunggu, pesanan saya datang: sepiring mie lendir,  mie kuning dengan siraman kuah kacang.

IMG-20191103-WA0022

Sepiring Mie Lendir Siap Disantap

Kenapa dinamakan lendir? Karena memang begitulah tampilan kuahnya. Kental, hingga lebih tepat disebut lendir ketimbang kuah. Rasanya seperti kuah pecel tapi dengan citarasa kacang yang lebih “ringan” dan tekstur seperti papeda dalam level kekentalan yang berbeda.

Selesai menyantap mie tadi, saya coba mengetuk perut. Sepertinya masih ada ruang sedikit untuk diganjal cemilan. Terbersit keinginan untuk mencicipi beberapa kudapan yang di jual di area pelabuhan.

Satu tips sebelum menjajal kuliner di Karimun: Jangan ragu bertanya. Karimun adalah daerah majemuk dengan penduduk beragam. Beberapa warung menjual menu non halal, jadi ada baiknya memastikan.

IMG-20191103-WA0012

Kedai Kopi Tua Bercat Jingga

Saya lanjutkan petualangan icip-icip pagi itu dengan memasuki kedai kopi tua berwarna jingga di sudut jalan. Tak ada makanan berat, mereka khusus menjual kopi dan sedikit cemilan. Tepat sesuai kebutuhan saya.

Sepiring mie lendir sudah menetap dalam perut. Lalu di kedai kopi ini, saya susulkan segelas kopi (yang sengaja disajikan dalam gelas keramik agar panasnya bertahan lama), dua butir telur setengah matang, serta setangkup roti bakar serikaya. Banyak juga ternyata yang sudah saya makan.

IMG-20191103-WA0020

Setangkup Roti Bakar Serikaya,  Telur Setengah Matang, dan Kopi Susu Hangat

Saya balikkan badan, berniat melangkah kembali ke penginapan sambil memperhatikan kiri dan kanan. Beberapa bus tua tak berjendela berjalan pelan. Bus-bus ini telah lama menjadi salah satu identitas unik kota Tanjung Balai  Karimun.

IMG-20191103-WA0015

Bus Tua Khas Karimun

Masyarakat umum, mulai dari siswa sekolah hingga ibu rumah tangga, setiap hari sabar menanti bus-bus berbadan kayu tersebut melewati jalanan di depan rumah, mengantarkan penumpangnya ke pasar atau ke sekolah.

IMG-20191103-WA0016

Bus Tak Berjendela Dengan Sebagian Dinding Bus Terbuat dari Kayu

Hal menarik lainnya, di kedua sisi jalan wilayah pelabuhan, simbol-simbol kemajemukan berserakan. Ada masjid, disusul beberapa klenteng, kemudian gereja, yang masing-masingnya berjarak beberapa puluh meter saja.

IMG-20191103-WA0026

Salah Satu Klenteng di Area Pelabuhan

IMG-20191103-WA0031

Gereja Tua Berdinding Papan

Processed with VSCO with c4 preset

Mesjid Berasitektur Melayu

Sekali saya bertanya pada seorang warga, Pak Tua paruh baya, “Pernahkah ada konflik horizontal terbuka di sini?”

“Tak pernah”, jawabnya. “Masyarakat sini suka yang damai-damai saja. Semua membaur, melihat orang-orang dalam bentuk dan kebiasaan berbeda tak lantas mencuatkan curiga”.

IMG-20191103-WA0017

Suasana Kedai  Kopi

Sepertinya Pak Tua yang saya tanyai itu tak berdusta. Di warung kopi tadi saya menikmati suasana beragam. Di satu pojok serombongan warga keturunan Tiongkok berbicara dalam bahasa Kanton. Di pojok lain ada pengunjung yang berbincang dalam aksen Melayu. Lalu ada pula orang keturunan India, tak lupa ibu-ibu dalam balutan jilbab ala Malaysia. Bhineka yang sesungguhnya tersaji di depan mata.

IMG-20191103-WA0030

Bagian Dalam Klenteng

Sebelum kembali, saya sempatkan mengunjungi klenteng di seberang jalan dan berbincang dengan beberapa bapak yang duduk bergerombol di depannya. Obrolan yang menarik. Tapi mungkin lain kali saja saya ceritakan.

IMG-20191103-WA0028

Pojok Kecil di Warung Kopi

Pagi beranjak siang. Perut sudah pula terisi kenyang.

Saatnya pulang.

2 responses to “Sepenggal Lamun di Tanjung Balai Karimun

  1. Sebelum membaca ini, ketika orang menyebut Karimun (Kepulauan Riau), pikiranku cenderung seperti masyarakat yang kental muslimnya. Tatkala membaca malah hilang.
    Sepertinya menarik abgaimana kala waktu Imlek di sini. Pasti meriah, dan mungkin sebagian orang tidak mengira itu di Karimun.
    Aku pas di Batam belum sempat kulineran Mie Lendir, cuma makan gonggong saja heeee

    Liked by 1 person

    • Secara umum Kepulauan Riau memang didominasi Melayu Muslim, Mas. Pengecualian mungkin di Batam dan Karimun yang sangat heterogen.

      Di Karimun, sebagian masyarakat keturunan Tiongkok menyebut dirinya “Cina Pulau”, istilah yg secara bebas bisa ditranslasikan sebagai bentuk peleburan diri ke dalam masyarakat yang majemuk tadi.

      Saya tidak menemukan area chinatown atau kampung cina di sini, masyarakat keturunan sebagian besar hidup membaur tanpa batasan dan tidak berkelompok sesama mereka saja. Denger2 sih kalau imlek di sini emang rame, Mas. Cuma kebetulan saya belum pernah nyicip suasana imlek di sini.

      Btw, ada 2 macam mie yg perlu dicoba kalo ke Kepri: Mie Lendir dan Mie Tarempa, dua-duanya khas sini hehe. Kalau gonggong juga kuliner unggulan sih, cuma kolesterolnya itu yang ga nahan, tinggi banget! :)))

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s