Berjumpa Begpackers di Jonker Street Malaka: Tren Mengemis Untuk Traveling

“Halo, kamu! Tengoklah sebentar!”

Satu suara dari arah kiri membuat saya memalingkan muka. Langkah yang tadinya terburu mendadak berhenti, mengakibatkan pejalan kaki di belakang menabrak punggung saya.

Reflek saya meminta maaf karena telah tiba-tiba berhenti di tengah jalan sempit yang penuh manusia.

JALAN SEMPIT BERNAMA JONKER STREET

Malam itu saya tengah berada di Jonker Street, sebuah pecinan ramai di pusat kota Malaka, Malaysia. Sebagaimana namanya, street, wilayah ini sejatinya merupakan jalanan yang diapit oleh bangunan-bangunan tua berlantai dua di kiri dan kanannya.

Jonker Street di Akhir Pekan

Jonker Street di Akhir Pekan Penuh Sesak Oleh Pelancong

Gerbang Jonker Street atau Jonker Walk

Gerbang Jonker Street

Sepintas, Jonker Street atau Jonker Walk mengingatkan kita pada kawasan pecinan sekitar pelabuhan di kota-kota pesisir Sumatera, atau kawasan ruko-ruko tua dengan arsitektur Tiongkok yang sering kita temui di Singapura.

Jonker Street di Siang Hari

Jonker Street di Pagi Hari

Sejatinya jalan ini bernama Jalan Hang Jebat. Berpangkal di area Dutch Square Malaka yang terkenal dengan Gereja Merahnya, jalan ini membentang sepanjang 600 meter lebih, dan telah ramai dihuni sejak awal abad 17.

Jonker Street

Jonker Street atau Jonker Walk, Malaka, Malaysia, Menjelang Malam

The Red Church

Gereja Merah Malaka yang Berada Tepat di Depan Jonker Street

Untuk mendukung aktivitas wisata, jalan ini ditutup bagi kendaraan setiap akhir pekan. Sebagai gantinya, pedagang segala rupa diizinkan menggelar jualan di sisi-sisinya.

Dulu, Babah dan Nonya peranakan dengan kekayaan tak berbilang, tinggal dan berjualan kebutuhan pokok di jalan ini. Namun, sekarang Jonker Street disesaki oleh penjual barang antik, suvenir, tekstil, pakaian, dan tentu saja makanan.

Penjual Barang Antik

Penjual Barang Antik di Jonker Street

Barang antik yang dijajakan

Perangko, Keramik, Vynil, Hingga Koin-Koin Langka Ada di sini

Penganan segala rupa, mulai dari cendol durian, nenas mini, segala macam kue, hingga warung kopi dan makanan berat, saling berdampingan memenuhi jalan. Menjadikan kawasan ini salah satu tujuan utama wisatawan.

Penjual Aneka Rupa

Segala Macam Jenis Barang Dijual di Jonker Street

Pedagang Memenuhi Jalan

Rupa-rupa Penjual Bercampur Baur dengan Pelancong Mancanegara

Ringkasnya, Jonker Street menjanjikan wisata kota tua, pesona belanja, serta ragam kuliner penggoyang lidah. Daya tarik terakhir itulah yang membawa saya malam itu ke sana.

Saat itu malam minggu, waktu di mana Jonker Street akan menjadi lebih ramai daripada hari-hari biasanya. Di malam minggu, area komersil tersebut semakin semarak. Panggung besar bahkan khusus didirikan untuk sesi karaoke lagu-lagu berbahasa Kanton.

Panggung Karaoke Setiap Malam Minggu

Panggung yang Khusus Disediakan Untuk Sesi Karaoke

Pedagang kaki lima melimpah, memenuhi sudut-sudut jalan, mulai dari yang berjualan dengan tenda, meja biasa, gerobak, atau yang hanya berjongkok dengan barang jualan dihampar seadanya di atas alas di pinggir jalan.

Dan itulah yang saya temukan saat saya memalingkan muka ke arah datangnya suara tadi.

MARIA DAN YVONNE

Dua orang perempuan duduk di kansteen trotoar, di belakang kain hitam yang dijadikan alas barang yang mereka jual, melemparkan senyum dan melambaikan tangan ke arah saya.

“Mari, silakan lihat!” salah satu dari mereka mengarahkan tangannya ke barang-barang yang mereka jajakan.

Saya baru menyadari bahwa dua perempuan tersebut berjualan foto.

Lebih tepatnya, hasil cetak foto-foto perjalanan mereka. Foto-foto dalam ukuran 3R disusun di atas kain hitam dengan pengelompokan berdasarkan lokasi tempat foto-foto tersebut diambil.

Foto-fot yang dijual

Foto-foto Perjalanan yang Dijual oleh Begpackers

Saya mendekat. Penasaran.

Malam itu saya tidak punya rencana apa-apa, hanya melihat-lihat situasi Jonker Street dalam balutan malam sambil mencari makan. Saya pikir, tidak akan jadi masalah jika saya sumbangkan sejenak waktu saya untuk menghargai mereka yang tadi memanggil.

“Silakan-silakan!”, perempuan berambut sebahu yang tengah memeluk ukulele berwarna merah menyapa saya.

“Nama saya Yvonne, dengan Y dan akhiran ‘e’ nya dibaca”, ujarnya. “Ini teman saya, Maria,” lanjutnya mengenalkan temannya yang berambut lebih panjang, dengan selendang coklat muda membalut bahunya.

Saya tersenyum, lalu berujar basa-basi, “Wow, I don’t expect you guys to speak Malay. I bet you two have been traveling around Malaysia for some time?”

Keduanya mengangguk, lalu berpandangan sejenak. Tawa mereka pecah seakan menyiratkan kesamaan pikiran.

Maria dan Yvonne

Maria dan Yvonne

“Ini semua foto-foto kalian sendiri?” tanya saya membuka percakapan, mencoba berjongkok di depan kain yang dihampar dua perempuan tadi, sekedar memastikan posisi saya lebih nyaman ketimbang berbicara sambil berdiri di depan mereka.

“Yes, these are ours!” Ini foto tempat-tempat yang telah kami kunjungi”, ujarnya sambil memainkan ukulele di tangannya, seolah ingin menambahkan efek dramatis.

“Kami menjual foto-foto kami untuk biaya melanjutkan perjalanan. Siapa saja boleh ambil, silakan, bayar sesukamu, kami tidak menetapkan harga,” Maria menimpali ucapan temannya. Suaranya agak tenggelam di sela-sela suara nyanyian dari panggung di persimpangan jalan saat ia menunjuk tumpukan foto di hadapannya.

Foto-foto tersebut merekam pemandangan banyak tempat di negara-negara Asia. Pedalaman Thailand, Myanmar, dan India. Juga ada beberapa foto landmark terkenal di Eropa.

Pandangan saya jatuh ke kotak biola yang terbuka di depan mereka. Saya tebak Maria dan Yvonne juga memainkan biola dan ukulele untuk mendapatkan uang dari pejalan kaki, selain dari foto-foto yang mereka jual.

Ada puluhan uang satu ringgit di dalam kotak tadi. Pun, koin-koin sen dan beberapa mata uang negara lainnya ada di sana. Cukup laris sepertinya foto-foto mereka.

Mata saya beralih ke potongan kardus yang ditulisi spidol, dipasang dengan posisi berdiri di samping foto-foto yang mereka jual.

Tertulis dalam huruf-huruf besar:

“I am travelling around the world and I really like the idea of taking you with me to the places where I have been. More than in the picture itself, I’m interested in highlighting what I’ve lived in.”

Tulisan yang Umumnya dipasang Begpackers

Tulisan Semacam Ini Jamak Dipakai Begpackers Untuk Memohon Simpati

Menarik.

Menit-menit berikutnya, saya, Yvonne, dan Maria saling bertukar cerita.

Maria, awalnya sedikit bicara, namun jadi lebih bersemangat saat tahu bahwa saya pernah mengunjungi Saint Petersburg, kota kelahirannya.

Yvonne, di sisi lain, lahir dan besar di Ukraina. Keduanya bersahabat saat bertemu dan bersekolah di kampus yang sama di Saint Petersburg. Akhir tahun lalu mereka memutuskan untuk berkeliling Asia untuk menemukan petualangan dan mencicipi hal-hal baru.

Singkat cerita, mereka berkelana ke sudut-sudut Asia. Ketika saya tanya mengapa memilih Asia, keduanya serentak tertawa lalu menjawab karena negara-negara Asia jauh lebih murah dengan penduduk yang ramah.

Mereka awalnya berkunjung ke China dengan modal yang memadai, kemudian meneruskan perjalanan ke Thailand. Lalu, seiring perjalanan mereka yang terus berlanjut, uang yang dimiliki juga semakin menipis. Mereka kehabisan uang untuk membeli tiket pulang ke kampung halaman.

Sebagai konsekuensinya, mereka memutuskan mencetak foto-foto mereka untuk dijual guna mendapatkan tambahan uang. Selain itu, mereka juga bermain musik sekedar untuk menarik perhatian orang yang berlalu-lalang.

Hasilnya, meski tidak seberapa, terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama terdampar di negara asing. Tipsnya, Maria membuka rahasia, adalah dengan selalu ‘mengemis’ di tempat-tempat berbeda, sehingga ‘pasar’ nya selalu berganti.

Pernah, suatu kali, aku Maria, uang yang mereka kumpulkan jika ditambahi sisa tabungan sudah mencukupi untuk memesan tiket pulang. Namun, keinginan untuk terus bertualang membuat mereka membatalkan niat itu dan kembali mengandalkan belas kasihan warga untuk melanjutkan perjalanan ke negara-negara lainnya.

‘Kecanduan’ meminta-minta mungkin istilah yang tepat bagi mereka, pikir saya, separuh menghakimi.

Di tengah perbincangan tersebut, saya iseng bertanya.

“Jadi, apakah kalian sudah pernah berkunjung ke Indonesia?”

Jawaban mereka cukup di luar dugaan saya.

Maria dan Yvonne ternyata pernah mengunjungi Indonesia, tepatnya di daerah Kendal, Jawa Tengah. Keduanya bahkan menetap di sana selama tiga bulan. Ya, tiga bulan.

Yvonne, dengan gerakan tangan yang ekspresif, bercerita tentang betapa dia menikmati pengalamannya hidup di Kendal, di mana mereka menyewa kamar kos milik kepala desa.

Seringkali, mereka mengandalkan belas kasihan warga setempat untuk makan. Atau untuk mengantarkan mereka dengan motor ke pantai-pantai di utara desa.

Sebagai gantinya, mereka mengajarkan bahasa inggris kepada anak-anak warga.

Cerita Yvonne dan Maria mengingatkan saya pada tren yang belakangan cukup merebak di dunia traveling: Fenomena Beg-packer.

BEG-PACKER: MENGEMIS UNTUK JALAN-JALAN

Terdengar seperti plesetan dari kata backpacker, begpacker (dari kata beg –meminta-minta, dan packer –mereka yang berjalan-jalan dengan bawaan dikemas dalam tas sandang) dimaknai sebagai turis atau sekelompok turis, umumnya berasal dari negara-negara barat, yang mengamen, berjualan foto, dan bermain musik di jalanan, sambil meminta uang dari warga lokal yang (katanya) digunakan untuk membiayai perjalanan mereka.

Begpacking

Begpacking, Tren Baru di Dunia Traveling (Sumber: Pencarian Google.com)

Umumnya para begpackers melancarkan aksinya di negara-negara dunia ketiga, terutama di wilayah Asia. Thailand, Malaysia, dan Indonesia menjadi sasaran utama. Negara-negara Asia memang cenderung terkenal ramah dan penduduknya gampang menaruh iba pada orang asing.

Entahlah, bisa jadi belas asih orang Asia tersebut dimanfaatkan oleh mereka yang ingin mendapatkan uang untuk memenuhi tuntutan traveling -yang sama sekali bukan merupakan kebutuhan utama di banyak negara Asia.

begpacker2

Menjual Foto Perjalanan Adalah Modus yang Paling Umum (Sumber: Pencarian Google.com)

Meningkatnya jumlah begpackers mengakibatkan beberapa negara Asia terbuka matanya, kemudian memberi batasan jumlah dana minimal yang harus dimiliki oleh turis yang datang berkunjung. Thailand, misalnya, telah mewajibkan seorang turis memiliki 20.000 bath saat datang ke Thailand.

Sementara itu, tidak ada kebijakan atau aturan yang menentukan saldo tabungan minimal yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin mengunjungi Indonesia.

Kebijakan bebas visa yang permisif (saat ini ada 169 negara yang warga negaranya tidak perlu mengurus visa saat datang ke Indonesia, sementara tidak semua negara tersebut menerapkan kebijakan serupa pada warga negara Indonesia yang datang ke negaranya), disertai ketiadaan aturan tentang dukungan dana atau sponsor yang harus dimiliki traveler tadi mengakibatkan membanjirnya turis-turis cekak ke negara kita.

begpackers3

Jika Pada Kenyataannya Begpackers Berjualan Sesuatu, Layakkah Mereka Dilabeli Pengemis? (Sumber: Pencarian Google.com)

Potensi munculnya begpackers -berikut masalah-masalah turunannya- bisa jadi berawal dari sana.

Satu hal yang perlu dipahami, tidak semua begpackers meminta-minta semata karena ingin memuaskan nafsu berjalan. Sebagian kecil, benar-benar kehabisan uang karena nasib malang.

Saya pernah membaca, traveler yang dirampok saat tengah berjalan sendiri, kecopetan, kehilangan dompet dan dokumen penting, ditipu warga lokal, dan beragam penyebab lainnya yang mengakibatkan mereka benar-benar tidak punya uang sehingga satu-satunya jalan adalah meminta-minta.

begpackers4

Menjual Pernak-pernik Karya Sendiri (Sumber: Pencarian Google.com)

Pikiran buruk saya sebagai manusia kadang membawa rasa curiga. Bukankah jika benar-benar kehabisan uang dan berniat untuk pulang, ada banyak cara lain yang bisa mereka lakukan?

Menghubungi kantor kedutaan negara mereka misalnya.

Atau, uang yang dikumpulkan dari mengemis bisa mereka gunakan untuk membeli pulsa atau ke kios internet untuk mengakses sosial media dan mengabarkan kepada keluarga di rumah, sekedar meminta bantuan ongkos pulang.

begpackers5

Apakah Turis Dapat Diberi Izin Untuk Berjualan di Negara yang Mereka Kunjungi? (Sumber: Pencarian Google.com)

Kenapa hal-hal tersebut tidak mereka lakukan?

Saya tak cukup berani menanyakannya pada Yvonne dan Maria.

Saya buka dompet dan mengeluarkan selembar uang satu ringgit lalu menaruhnya dalam kotak biola Maria.

“Can I have this one?” tanya saya, menunjuk foto Arc de Triomphe di pojok kanan.

“Sure!” Maria menjawab, lalu mengucapkan terima kasih.

“Gotta go now. Good luck for the adventure, you two!” ujar saya menutup percakapan malam itu sambil menyimpan foto tadi ke dalam tas kecil yang saya bawa.

Maria mengulang ucapan terima kasih, lalu bersama Yvonne melambaikan tangan sambil tersenyum mengucapkan salam perpisahan.

Saya berdiri, lalu berbalik dan meneruskan langkah.

Malam masih muda, tapi perut saya sudah keroncongan.

Saya harus mencari makan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s