Sebuah Rumah Bernama Mimpi

20150426_140131

Ada sebuah rumah di tengah ladang.

Dulu, dindingnya disusun dari papan. Lalu, suatu waktu, berganti bata, dan rumahnya menggelembung, besar. Kokoh.

Pondasinya menancap dalam, atapnya dari genteng pilihan yang dicetak satu demi satu, dengan tangan, oleh petani desa yang bahagia meski tak cukup makan.

Suatu siang, Pemilik Rumah meraih sebilah papan, lalu dipasangnya di atas pintu, menutupi sebagian ventilasi. Diambilnya kapur, lalu diukirnya papan tadi.

Mimpi.

Kata pendek itu ditulisnya di sana. Begitulah sejak saat itu Pemilik Rumah menamai harta satu-satunya.

Selang berlalu, kala langit merah darah, Sang Waktu memainkan dadunya di atas kepala Pemilik Rumah.

Si Pemilik Rumah memutuskan pergi, meninggalkan dinding bata jingga yang diharapnya akan bercat putih suatu hari.

Lalu masa berkelebat, menyisakan detik yang siap membebat.

Pemilik Rumah tersadar. Mulanya sempat Ia mengira permainan dadu Sang Waktu adalah hal sepele, yang takkan membuatnya kecele.

Terbukti dirinya salah. Ia lemah. Atau melemah?

Dari tujuh ratus bintang yang dilihatnya malam itu, selepas 30 kali bumi menjenguk matahari, tak satupun yang menunjuk ke arah pulang. Ia rindu, rumah tuanya.

Pemilik Rumah tersesat. Dalam pusaran teriakan umat.

“Rumahmu tak penting!” kata satu teman.

“Mungkin malah sudah rubuh sekarang,” ujar dia yang mengaku sahabat.

Pemilik Rumah berlari ke kekasihnya, hanya untuk mendengar titah:

“Berhentilah mencari! Belilah rumah yang baru, lalu tinggallah di sana, bersamaku.”

Kemudian muhajat bersembur ludah tak berkesudahan meluluhkan Pemilik Rumah. Ia menyerah, memilih tinggal di kota, di rumah baru yang dari dalamnya Ia bisa mendengar celotehan tetangga.

Tapi entahlah, Sang Waktu memang suka bercanda. Pemilik Rumah tak bisa lupa, pada rumah lamanya. Pada deretan bata, pada loteng sederhana, juga pada papan tulis yang mulai miring.

Ia yakin, rumah itu masih di sana. Berdiri. Sendiri. Meski mungkin rapuh.

Mungkin dindingnya sudah berlumut. Bisa jadi gentengnya sudah terban.

Ladangnya?

Ah, Pemilik Rumah sudah rela, pasti sudah tidak ada. Berganti semak belukar dan hutan belantara.

Tapi, pikir panjangnya berujung buntu.

Sudahlah, putusnya, akhirnya: Mengaku kalah adalah kepastian, bukan lagi pilihan.

Mari simpan saja rumah kecil itu di kepala, biarkan bersembunyi di sudut gelap kenangan. Pelan-pelan menunggu keterhapusan.

Pemilik Rumah menyerah.

Sementara di luar sana, dinding bata rumah tua perlahan terlepas,

satu demi satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s