Ziarah Moscow: Apa Kabar Lenin? (Bagian 2)

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan tentang perjalanan saya menziarahi makam dan menyaksikan jenazah Lenin, tokoh besar komunis dunia. Bagian pertama bisa Anda baca di Ziarah Moscow: Apa Kabar Lenin? (Bagian 1).

Saya berdiri di depan Red Square, pusat kota Moscow, Rusia.

Tentang Red Square

Alun-alun dengan panjang 330 meter dan lebar 70 meter ini awalnya dikenal dengan nama Trinity Square. Orang Rusia sendiri menyebut lapangan ini ‘Krasnaya’, yang berarti ‘cantik’ dalam Bahasa Rusia lama. Namun, saat ini kata ‘Krasnaya’ lebih dimaknai dengan arti ‘Merah’, warna yang identik dengan paham Komunis dan darah.

20150329_184526

Red Square

Seluruh permukaan lapangan dilapisi paving batu dan bersisian dengan banyak landmark utama Moscow, seperti Katedral Saint Basil (gereja merah dengan banyak menara dan atap menyerupai kubah masjid warna warni), Museum Sejarah Rusia, Kremlin (komplek istana kepresidenan sekaligus pusat pemerintahan Rusia), sebuah pusat perbelanjaan tua bersejarah bernama GUM, serta tentu saja Lenin Mausoleum.

Kremlin Map

Peta Red Square, dengan Lenin Mausoleum berada di tengah bawah peta (Sumber: Pencarian Google.com)

20150329_161931

Katedral Saint Basil dengan ciri khas menara dan atap warna-warninya

P1010826

GUM Department Store, salah satu mall terkenal di Moscow

Makam Lenin atau Lenin Mausoleum berlokasi sejajar dengan tembok keliling Kremlin. Menjadi salah satu atraksi utama di Moscow, bangunan berbentuk piramida yang tersusun atas undakan balok marmer setinggi 12 meter tersebut membujur sepanjang 24 m dan mempunyai lima lantai.

P1010804

Di dalam piramida inilah jasad Lenin disemayamkan

Awalnya makam ini terbuat dari kayu, namun pada tahun 1930 direnovasi menjadi bangunan batu permanen. Keseluruhan permukaannya lalu dilapisi dengan marmer berwarna kemerahan dan hitam.

Pria Bernama Lenin

Vladimir Lenin meninggal dalam usia 53 tahun pada tahun 1924. Versi resmi menyatakan penyebab kematiannya adalah akumulasi serangan stroke yang tidak bisa disembuhkan setelah dirinya mengalami percobaan pembunuhan dengan tiga tembakan di leher serta rahang pada tahun 1918.

P1010900

Salah satu lukisan potret Lenin di stasiun Metro Moscow

Saat hidupnya, Lenin pernah meminta untuk dimakamkan di kota Saint Petersburg, bersebelahan dengan makam ibunya. Namun, Stalin -penguasa Rusia penerus Lenin- tidak mengabulkan keinginan tersebut. Saat Lenin meninggal, Stalin memerintahkan agar dibentuk satu badan khusus yang bertugas mengawetkan jenazah Lenin dengan cara dibalsem. Tujuannya agar ‘tubuh’ Lenin tetap awet dan rakyat Soviet bisa menyaksikan dan mengucapkan selamat tinggal sekaligus penghormatan pada sang pemimpin.

Stalin berambisi membawa negara komunis yang dipimpinnya ke tingkatan baru, dimana sentimen reliji serta pengkultusan terhadap penguasa dibenamkan dalam benak rakyat sehingga menciptakan bentuk dukungan baru dari rakyat kepada pemimpin dan negaranya.

Setiap tahunnya jasad Lenin dikunjungi ribuan orang. Untuk menjaganya tetap awet, tubuh lenin secara rutin diperiksa dan diberi perawatan tambahan. Selama masa perawatan tersebut, Lenin Mausoleum akan ditutup untuk umum, dengan durasi berkisar selama dua bulan.

Pengawetan tubuh pemimpin seperti ini memang lazim dilakukan di negara-negara berpaham komunis. Selain Rusia, negara lain yang memiliki mausoleum pemimpinnya antara lain China, Korea Utara, dan Vietnam. Bersama, negara-negara tersebut berbagi cara dan tips mengawetkan jenazah pemimpinnya.

P1020156

Datanglah pada hari di mana Lenin Mausoleum ditutup supaya bisa mendapatkan foto Red Square yang relatif sepi

Awalnya kunjungan ke makam Lenin disebut menjadi semacam pengalaman spiritual bagi rakyat Soviet. Namun, saat Uni Soviet bubar dan komunis tidak lagi menikmati masa kejayaannya, kunjungan ke Lenin Mausoleum menjadi bersifat wisata guna memenuhi keingintahuan akan sejarah Rusia.

Mausoleum ini dibuka empat hari seminggu: Selasa, Rabu, Kamis, dan Sabtu. Selain itu, makam ini hanya dibuka dari pukul 10 hingga 1 siang. Karena itu, penting untuk memastikan Anda tidak berkunjung di waktu yang salah.

Terbatasnya jam kunjungan ini sering membuat antrian wisatawan yang hendak ‘berziarah’ mengular di sepanjang pagar Kremlin hingga ke arah Museum Sejarah Rusia.

P1020169

Museum Sejarah Rusia. Pengunjung Lenin Mausoleum bisa menitipkan barang di sini dengan membayar 3 rubel

Tak ingin terlalu lama menunggu dalam udara dingin, saya bergegas bergabung dengan antrian tersebut. Tidak ada tiket, karena pengunjung tidak dipungut biaya masuk. Jika membawa barang bawaan dan kamera, disarankan untuk menitipkannya dengan biaya 3 rubel di ruang penitipan Museum Sejarah Rusia.

Pengunjung mausoleum tidak diizinkan memotret. Selain itu, untuk menghormati jenazah sang pemimpin besar, pengunjung diminta untuk tidak mengenakan kacamata hitam atau topi. Tidak boleh ada yang berbicara. Pengunjung diharapkan menjaga sikap selama melakukan ziarah.

Saya menunggu lebih kurang setengah jam sebelum akhirnya mendapat giliran masuk. Untungnya antrian saya sama sekali tidak membosankan, sesekali lewat orang-orang yang berpakaian dan berakting seperti tokoh-tokoh besar Soviet, mulai dari Stalin, Tsar Nicolas, atau bahkan Lenin sendiri. Semuanya menawarkan jasa foto bersama bagi wisatawan. Tentu saja tidak gratis.

Saatnya tiba.

Menziarahi Jenazah

Setelah melewati detektor metal dan petugas keamanan yang memeriksa satu demi satu pengunjung serta barang bawaannya, saya akhirnya bisa masuk melalui gerbang depan mausoleum. Tulisan ‘LENIN” dalam aksara Cyrillic (aksara tradisional Rusia) tertera di bagian atas gerbang.

P1010970

Gerbang masuk Lenin Mausoleum dengan tulisan “Lenin” dalam aksara Cyrillic di bagian atasnya

Di dalam mausoleum ternyata cukup gelap.  Saya melangkah turun ke dalam Lorong yang seluruh permukaannya dilapisi marmer, dalam suasana remang dan dingin. Pencahayaan sangat sedikit dan temaram, sehingga saya harus berhati-hati melangkah sambil meraba dinding saat menuruni anak tangga.

Penjaga berseragam berdiri diam di beberapa titik di dalam mausoleum. Sesekali mereka mengingatkan pengunjung untuk tidak berbicara dan segera bergerak maju. Saya terus melangkah, menuju ruangan lain yang lebih gelap dan terasa lebih dingin dari ruang sebelumnya.

Lalu untuk pertama kalinya saya menyaksikan jenazah sang pemimpin.

Ia terbaring di sana, seperti orang yang tidur nyenyak dalam sarkofagus kaca tahan peluru di atas semacam podium marmer warna merah. Suhu dan cahaya dalam kotak kaca tersebut telah diatur sedemikian rupa agar tidak merusak tubuh tuanya.

Çàáàëüçàìèðîâàííîå òåëî Â.È. Ëåíèíà

Jenazah Lenin dalam Sarkofagusnya (Sumber: Pencarian Google.com)

Sinar lampu kuning keputihan mengarah ke wajah dan tangannya. Matanya terkatup dengan tangan separuh bersedekap. Lenin terbaring mengenakan setelan jas lengkap, dengan dasi gelap dan kemeja putih. Lencana kehormatan Soviet terpasang di dadanya.

Pengunjung berjalan melewati sisi kanan Lenin, dari arah kepala menuju arah kakinya, lalu berputar ke sisi kiri jenazah, perlahan melihat bagian kepalanya dari depan.

Saya kehilangan kata untuk menjelaskan penampakannya.

Kulitnya putih pucat. Pengaruh zat kimia serta cairan pelembab khusus memang mampu menghilangkan kerutan di wajahnya, namun pada saat yang sama membuatnya terlihat seperti boneka keramik mengkilat. Suntikan pengawet ke lapisan kulit di balik pakaiannya kentara membuatnya terlihat less human.

IMG_0804B

Jenazah Lenin yang diawetkan. Terlihat seperti patung lilin (Sumber: Pencarian Google.com)

Jasad Lenin sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan. Ia terlihat lebih kecil dan berminyak. Tapi, mengingat kematiannya yang telah berlalu lebih dari 90 tahun, saya merasa kondisinya masih cukup terjaga hingga tetap layak dipertontonkan.

Saya pernah membaca bahwa bulu mata Lenin yang asli telah diganti dengan bulu mata buatan. Hidungnya dibentuk ulang, begitu juga dengan bagian-bagian wajah dan tubuhnya yang disumpal dengan lilin untuk menjaga bentuknya tetap seperti semula. Namun, kumis dan janggutnya asli, dengan bentuk persis sama dengan yang tergambar dalam foto-foto dan patungnya.

Lenin-Embalsamado

Penampakan wajah Lenin dari dekat (Sumber: Pencarian Google.com)

Ada gosip bahwa yang dipajang di mausoleum bukanlah tubuh Lenin sebenarnya, melainkan boneka lilin. Disebutkan bahwa tubuh lenin sebenarnya diawetkan di sebuah fasilitas rahasia agar tidak semakin rusak dimakan usia. Entahlah, tidak ada yang mengkonfirmasi kebenaran gosip tersebut.

Ziarah di makam Lenin berlangsung sangat cepat. Hanya berkisar 1-2 menit. Saya hanya bisa menatapnya sambil terus melangkah, karena pengunjung tidak diizinkan berhenti dan berlama-lama memandangi jenazah.

20150329_183523

Penjaga di Komplek Red Square dan Kremlin

Petugas mengarahkan pengunjung ke pintu keluar yang membawa saya ke sisi lain pagar Kremlin, ke area bernama Kremlin Wall Necropolis. Di area ini berjejer makam tokoh-tokoh besar Soviet lainnya, mulai dari Joseph Stalin hingga Yuri Gagarin -manusia pertama yang mencapai luar angkasa.

P1020044

Patung Stalin di Kremlin Wall Necropolis

Sesaat setelah saya keluar dari pintu, angin menampar, dan muka saya kembali bergelimang cahaya matahari.

Saya menarik nafas perlahan, berusaha mengingat-ingat apa yang baru saja saya saksikan. Sungguh suatu pengalaman yang rasanya sulit dilupakan.

Saya merasa beruntung berkesempatan melakukan ziarah ke sana karena Lenin Mausoleum mungkin tidak akan bertahan lama. Saat ini di Rusia berkembang wacana untuk menutupnya lalu mengubur jenazah Lenin di Saint Petersburg, bersisian dengan makam Ibunya -sesuai wasiat Lenin.

20150329_184707

Lenin Mausoleum, suatu pagi di akhir musim dingin

Satu hal yang pasti, berziarah ke makam Lenin terasa seperti mengenang sejarah anak manusia dengan segala baik buruknya. Ia menyegarkan kembali ingatan tentang sepak terjang tokoh kaliber dunia, termasuk tentang perebutan kekuasaan serta intrik serta konsekuensi politik yang menjadi akibatnya.

Seperti halnya peristiwa Revolusi Perancis, Reformasi 98, atau banyak peristiwa pergantian kekuasaaan lainnya, pertumpahan darah seringkali jadi bagian dari cerita. Dan dalam cerita Lenin, Keluarga Kerajaan Rusia adalah tumbalnya.

Demikian.

4 responses to “Ziarah Moscow: Apa Kabar Lenin? (Bagian 2)

  1. Kebetulan bulan Oktober lalu saya mengunjungi Hanoi dan berkesempatan untuk ‘ziarah’ ke mausoleum Ho Chi Minh (draft tulisannya masih menggantung di harrdisk saya). Kurang lebihnya pengalaman kita sama ya. Mulai dari aturan yang diterapkan selama mengantri, ketika berada di depan jenazah pemimpin yang diawetkan tersebut, hingga gosip bahwa sebenarnya jenazah mereka adalah palsu.

    Jenazah Ho Chi Minh sendiri juga setiap tahunnya mendapatkan perawatan khusus. Di mana lagi kalau bukan di Rusia. Jadi selama beberapa waktu tertentu, mausoleumnya akan ditutup, karena jenazahnya sedang ‘melancong’ ke luar negeri.

    Konon kabarnya, rancang bangun mausoleum Ho Chi Minh terinspirasi dari mausoleum Lenin. Namun sekilas dapat dikatakan jika milik Ho Chi Minh jauh lebih terang di bagian luar, karena pemilihan warna putih dan kelabu sebagai dasar marmer nya. Selain itu juga dilengkapi dengan atap di bagian atasnya.

    Entah kenapa, setelah mengunjungi mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, saya juga jadi ingin mengunjungi mausoleum pemimpin komunis lainnya di negara mereka masing-masing. Hanya untuk membandingkan saja 🙂

    Tulisan yang menarik mas.

    Liked by 1 person

    • Semoga segera ada waktu buat ngelarin tulisannya ya, mas. Ga sabar pengen baca. Pengen tau juga gimana ziarahnya kalau di Vietnam. Pengunjung dikenakan tiket masuk ga mas kalo di sana?

      Kalo ga salah pernah baca, sesama negara komunis yg punya mausoleum emg kerjasama utk berbagi tips menjaga kondisi mayat yg diawetkan itu. Cuma makin ke sini emg makin banyak yg mempertanyakan keaslian jasad yg dipajang di mausoleumnya, soalnya kok kinclong bener :)).

      Yang jadi pertanyaan saya, kenapa negara komunis punya kecenderungn untuk mengabadikan (fisik) pemimpin mereka ya? Saya ga ngeliat masyarakat di beberapa negara komunis yang pernah saya datangi sebagai masyarakat yang butuh “keberadaan fisik” dari figur yang membangkitkan nostalgia dan nasionalisme mereka. Agak susah membayangkan negara komunis melakukan pengawetan begitu karena unsur occult atau pemujaanya. Tapi selain mengawetkan jenazah emg kayanya mereka juga suka bikin patung2 pemimpinnya sih.

      Anyway, makasih apresiasinya, mas. Masih harus banyak belajar nih saya, hehe.

      Liked by 1 person

      • Di Vietnam juga gratis mas untuk bisa masuk ke dalam mausoleum Ho Chi Minh. Dan waktu berkunjungnya juga terbatas, jam 11.00 an udah tutup malah. Jadi paling lambat jam 10.00 sudah harus masuk barisan, kalau gak ya balik lagi besoknya 😀

        Menyoal tentang itu, saya pernah baca tulisan tentang teknik pengawetan jenazah para pemimpin komunis. Jadi kurang lebihnya, semakin lama jenazah mereka diawetkan, maka semakin berkurang bagian tubuh asli mereka. Karena setiap kali masuk masa maintenance, selalu ada bagian yang ditambal dengan bahan sintetis. Dan bagian tubuh aslinya harus dibuang. Seperti di tulisan mas ini khan juga dijelaskan, bagaimana hidung Lenin dibentuk ulang, lalu ditambahkan beberapa zat lainnya supaya terlihat tetap segar dan lain-lain.

        Jadi wajar sih kalau pada akhirnya banyak yang mikir kalau jenazah mereka itu palsu. Karena makin lama, makin terlihat artifisialnya.

        Hmmm kenapa ya? Mungkin memang gayanya negara komunis seperti itu. Mereka mengkultuskan pemimpin secara berlebihan. Seperti di Korea Utara, saking kerasnya pengkultusannya mereka juga didoktrin kalau Kim Il Sung adalah pencipta alam semesta. Saya pernah baca di manaaa gitu soal itu … maaf sudah agak lupa sumbernya.

        Sama-sama mas. Saya juga masih harus belajar banyak. Ngomong-ngomong, saya suka gaya serta sudut penulisan dan bahasa yang mas pakai. Kece! Bakal betah berkunjung nih saya 🙂

        Like

        • Berarti ini ‘wisata’ mausoleum kayanya udah terstandarisasi ya. Di negara-negara komunis standar dan pakemnya udah sama. Hebat juga hehehe. Jadi pengen nyoba juga ke Vietnam buat liat gimana mausoleum di sana.

          Buat saya yang mengerikan soal kultus pada pemimpin yang berlebihan seperti di negara-negara komunis itu adalah fakta bahwa rakyatnya (di tengah zaman teknologi dan kemudahan akses terhadap informasi seperti sekarang), masih bisa “dibujuk” untuk percaya. But then again, who are we to judge juga sih ya.

          Makasi banyak apresiasinya mas, semoga saya bisa konsisten nulisnya, karena itu yang susah banget kayanya ya hehe. Seneng juga bisa diskusi sama yang suka sejarah Romanov juga.

          Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s