Ziarah Moscow: Apa Kabar Lenin? (Bagian 1)

Yekaterinburg, 17 Juli 1918.

Dini hari di sebuah rumah, langkah kaki terdengar mendekati pintu salah satu kamar tidur. Si pemilik langkah kaki, Yurovsky, berdiri sejenak di depan pintu sebelum mengetuknya pelan.

Seorang lelaki tua muncul dari balik pintu. Yurovsky tidak memberinya kesempatan bicara. Ia hanya berkata singkat, “Bangunkan mereka, lalu bersiaplah. Katakan pada mereka untuk mengenakan pakaian terbaik. Malam ini mereka harus meninggalkan tempat ini. Yekaterinburg tidak lagi aman.”

Lelaki tua itu, dr. Eugene Botkin, mengangguk patuh kemudian melangkah menuju kamar majikannya. Di sana, satu keluarga bergegas menyiapkan diri sesuai pesan yang disampaikan sang dokter.

Mereka adalah keluarga Romanov. Dinasti yang telah memimpin Kekaisaran Rusia selama 300 tahun. Sang mantan Tsar Rusia, Nicholas II, malam itu bersiap mengenakan pakaian terbaiknya. Pun istrinya, Tsarina Alexandra, dan kelima anak mereka; Olga, Tatiana, Maria, Anastasia, serta satu-satunya anak lelaki, putra mahkota penerus tahta kerajaan bernama Alexey. Olga, Tatiana, Maria, dan Anastasia saat itu berturut-turut berusia 22, 21, 19, dan 17 tahun.

Olga Maria Nicholas Alexandra Anastasia Alexei tatiana

Keluarga Kerajaan Rusia Terakhir. Dari kiri ke kanan, Olga – Maria – Tsar Nicholas – Tsarina Alexandra – Anastasia – Alexey – Tatiana (Sumber: Pencarian Google.com)

Nicholas menatap keluarganya satu persatu, kemudian sebelum meraih gagang pintu dia berujar pelan, “Malam ini kita akhirnya akan keluar dari tempat ini”. Suaranya bergetar, menyiratkan ketidakyakinan.

Ia lalu menghela nafas dan memimpin keluarga itu ke luar kamar, diikuti empat orang pembantu terdekat mereka -satu dokter pribadi dan tiga orang wanita pelayan sekaligus pengasuh anak- yang setia melayani sejak lama. Jauh sebelum terjadinya huru-hara di Saint Petersburg yang mengakibatkan runtuhnya kekaisaran Rusia. Rusuh yang mengakibatkan keluarga Romanov disingkirkan ke sebuah rumah di Yekaterinburg, 1700 kilometer arah timur Moscow.

inside_bnw_1

Salah satu ruangan di Ipatiev House, rumah pengasingan terakhir Keluarga Romanov (Sumber: Pencarian Google.com)

Keluarga kerajaan tersebut satu persatu masuk ke kamar yang diperintahkan. Nicholas II, sang Tsar, memasuki kamar sambil menggendong Pangeran Alexey. Si bungsu yang baru berusia 13 tahun itu sudah beberapa waktu tidak lagi bisa berjalan dan harus hidup dengan kursi roda karena penyakit hemophilia -kendala pembekuan darah- yang dideritanya semakin parah.

Nicholas and Son

Tsar Nicholas II dan Sang Putra Alexey (Sumber: Pencarian Google.com)

Kamar tersebut terletak di dekat basement, berukuran kecil, dengan motif wallpaper garis-garis vertikal, dan plafon melengkung. Di sudut ruangan ada satu pintu berdaun ganda yang menuju ke sebuah lemari pakaian. Malam itu pintu tersebut terkunci rapat. Selain itu tidak ada apa-apa lagi di kamar tersebut. Hanya ada jendela yang telah dikunci mati dan kacanya ditutupi sehingga tidak ada yang bisa terlihat dari luar. Yurovsky, kepala penjaga rumah tempat keluarga Romanov ditahan, sudah menunggu di dalam kamar.

Malam itu senyap. Tidak ada yang bersuara. Sesekali terdengar gonggongan Joy, anjing milik si kecil Alexey, dari kamar di lantai atas. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Berdirilah dalam dua barisan”, Yurovsky memecah kesunyian, memberi perintah kepada 11 orang di hadapannya. “Kalian akan difoto sebagai bukti kepada rakyat, bahwa kalian dalam kondisi selamat”. Rombongan itu lalu bergeser pelan di sudut kamar, membentuk dua barisan dengan Nicholas dan istrinya di baris depan.

Nicholas melirik pada Tsarina Alexandra, kemudian meminta kepada Yurovsky, “Ambilkan dua kursi. Biarkan Alexandra dan Alexey duduk”, pintanya.

Permintaan itu dikabulkan. Tak lama seorang petugas masuk membawa dua kursi. Nicholas mendudukkan Alexey di satu kursi, sementara Tsarina Alexandra duduk di kursi satunya.

Lalu keluarga Romanov ditinggalkan di ruangan. Sunyi, tidak ada yang bercakap, semua sibuk dengan pikiran masing-masing dengan satu harapan: dapat segera keluar dari ruangan itu.

a9fa90b53dc83978ed7f96c58a4bc3a9

Ilustrasi saat Keluarga Romanov beserta dokter dan pembantunya diminta berdiri berjejer dalam ruangan (Sumber: Pencarian Google.com)

Setengah jam berlalu, pintu kembali terbuka.

Sembilan pria menyeruak masuk memenuhi ruangan. Yurovsky, sang komandan, loyalis Partai Komunis Bolshevik, berdiri terdepan, sambil berujar lantang: “Nikolai Alexandrovich, sehubungan dengan fakta bahwa kerabat Anda mencoba menyerang dan menjatuhkan pemerintahan Soviet Russia, maka Komite Tertinggi telah memutuskan untuk menjatuhi Anda hukuman mati”.

Yurovsky berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Hukuman mati akan dijatuhkan sekarang”.

Serentak, kesembilan pria yang baru saja masuk itu mengacungkan senjata, lalu mulai menembak.

Serangan itu sangat mendadak, Nicholas masih menatap tak percaya ke arah keluarganya ketika tiba-tiba tubuhnya tercabik puluhan butir peluru yang melesat menembus dada dan jantungnya. Ia tewas seketika.

Tsarina Alexandra tengah berusaha memberkati dirinya dengan membentuk tanda salib, namun gagal, karena timah panas berhasil menembus kepalanya terlebih dahulu.

Assassinat de Nicolas II à Iekaterinbourg

The Killing Begins (Sumber: Pencarian Google.com)

Para algojo melanjutkan menembak membabi-buta di tengah kepulan asap, gelap, dan desing peluru. Bau anyir darah menguar di sela aroma mesiu.

Saat tembakan berhenti dan asap mulai memudar, ruangan dipenuhi suara rintihan dan erangan kesakitan. Potongan tubuh, organ dalam, dan otak, berceceran di lantai. Darah membanjir.

Namun, satu hal terkuak: lima anak keturunan terakhir keluarga kerajaan Romanov masih hidup -meskipun sekarat dan terluka parah. Kelima anak tersebut mengenakan pakaian berlapis berlian dan rompi anti peluru yang membuat mereka tidak langsung tewas saat ditembak.

Alexei dan saudari

Alexey dan Empat Saudari Perempuannya Saat Berlibur di Pantai (Sumber: Pencarian Google.com)

Selanjutnya yang terjadi adalah salah satu kebrutalan terbesar dalam sejarah pergantian kekuasaan sebuah negara.

Yurovsky dan delapan anggota pasukannya menyelesaikan misi mereka dengan segala cara.

Maria, dihabisi dengan cara ditusuk berkali-kali dengan pisau di bagian dada. Olga dibunuh dengan cara ditembak tanpa henti di bawah rahang. Tatiana cukup beruntung mampu berdiri berlumuran darah dan berusaha melarikan diri ke arah pintu, namun sia-sia. Seorang algojo membidiknya. Segera, peluru menembus bagian belakang kepala si gadis muda, mengakhiri masa remajanya seketika.

Keluarga Romanov

Potret Keluarga Romanov, keluarga terakhir Kerajaan Rusia (Sumber: Pencarian Google.com)

Anastasia, masih tergeletak bernyawa saat salah satu algojo mendekat. Ia lalu mencabik dada sang putri dengan ujung bayonet sepanjang 8 inchi. Memastikan nyawa sang putri terpisah dari badan dalam erangan kesakitan.

Si kecil Alexey menyaksikan itu semua. Ia, yang tak bisa berjalan, menatap penuh kengerian dengan tubuh bersimbah darah, tak berdaya saat satu persatu seluruh keluarganya dihabisi di depan matanya.

Yurovsky cepat menyadari bahwa masih tersisa satu calon pewaris tahta.

Aleksei Romanov, the heir to the Russian throne

Alexey Kecil (Sumber: Pencarian Google.com)

Pelan, Yurovsky mendekat. Menarik pelatuk pistol, dan mengarahkan ujungnya ke kepala si pangeran. Dalam satu tembakan, pewaris terakhir dari tahta kekaisaran Rusia itu tewas, tubuhnya tersungkur menimpa tubuh sang ayah.

Kengerian 20 menit itu berakhir di sana.

Lalu senyap.

Ipatyev_house_ruang bawah tanah

Kamar dimana seluruh anggota Keluarga Romanov tewas dibantai (Sumber: Pencarian Google.com)

97 Tahun Kemudian.

Hampir seratus tahun setelah peristiwa itu terjadi, di satu pagi di penghujung musim dingin, saya melangkahkan kaki menuju tempat peristirahatan terakhir salah satu otak di balik pembantaian tersebut: Lenin.

Terlahir dengan nama Vladimir Ilyich Ulyanov, Lenin merupakan salah satu tokoh komunis paling berpengaruh dalam sejarah dunia abad 20. Ia merupakan arsitek peristiwa Revolusi Bolshevik pada tahun 1917 yang menumbangkan kekuasaan Tsar Rusia dan menghapus sistem kerajaan yang selama ini dianut negara. Revolusi ini berujung pada pembantaian Tsar beserta keluarganya yang saya coba rekonstruksi dalam baris-baris awal tulisan ini.

Lenin

Vladimir Lenin (Sumber: Pencarian Google.com)

Lenin juga merupakan inisiator Sosialisme, sebuah konsep yang sekarang menemui nasib seperti pencetusnya: mati, namun tidak dilupakan.

Semasa hidupnya Lenin mengembangkan pengaruh kuat yang membawanya menjadi First Leader of the Union of Soviet Socialist Republics (USSR) -kita kenal dengan nama Uni Soviet- dari tahun 1922 hingga 1924. Di masa kekuasaannya lah Uni Soviet menjadi negara satu partai di bawah pimpinan Partai Komunis Rusia.

Awalnya saya mengira Moskow di penghujung musim dingin akan sedikit lebih hangat. Ternyata saya keliru. Hawa dinginnya masih menyengat meskipun langit biru dan matahari bersinar, membuat kulit kering dan bibir saya beberapa kali mengelupas.

Setelah hari sebelumnya gagal menziarahi peristirahatan terakhir Lenin karena ternyata ‘makam’nya ditutup setiap hari Senin, pagi ini saya kembali mencoba peruntungan.

Rasa penasaran membuat saya mengabaikan hawa pagi yang dingin dan bergegas berjalan dari hostel tempat saya menginap menuju ke Red Square, yang berlokasi di tengah-tengah kota Moscow, ibukota Rusia.

Saat itu pukul 10 pagi, saya akhirnya sampai di Red Square. Di kejauhan, terlihat Lenin Mausoleum berdiri menyeruak.

apa-kabar-lenin

Red Square, Moscow. Piramida berundak di sisi kiri adalah Lenin Mausoleum, dimana jenazah Lenin disimpan

Saya percepat langkah kaki.

Saya tak sabar.

———————————————

Baca kelanjutan perjalanan saya menziarahi makam dan menyaksikan jenazah Lenin, tokoh besar komunis dunia, dalam Ziarah Moscow: Apa Kabar Lenin? (Bagian 2).

6 responses to “Ziarah Moscow: Apa Kabar Lenin? (Bagian 1)

  1. Entah berapa potongan film yang saya tonton demi menyaksikan rekonstruksi pembunuhan keluarga Tsar Nicholas II ini. Mungkin 4-5 film yang berbeda. Tapi ketika membaca rekonstruksinya dalam tulisan ini, rasa ngerinya masih terasa. Tragis, dan ironis. Sebuah keluarga yang menguasai salah satu kekaisaran terluas di dunia menemui ajal dalam ruangan yang sempit secara bersama-sama.

    Jadi gak sabar baca kelanjutan kisah perjalanan ini …

    Liked by 1 person

    • Wahh sama, mas! Yang paling membekas itu film tahun 2000 judulnya The Romanovs: An Imperial Family. Nontonnya malah bikin penasaran terus jadi baca-baca buku dan info soal jaman-jaman kejayaan Tsar. Cuma di versi film itu agak kurang akurat, karena ga digambarin kalo sebenernya masih ada anak-anak Tsar yang ga langsung tewas yang akhirnya meninggal karena dibayonet. 😦
      Sampe sekarang masih separo berharap kalau mitos Anastasia itu beneran hehe.

      Liked by 1 person

      • Iya, betul. Beberapa film memang agak berbeda rekonstruksinya. Kalau dibilang kurang akurat, saya justru penasaran apakah ada catatan resminya yang bisa menjadi parameter keakuratannya?

        Bahkan sebenarnya, waktu saya membaca tulisan mas ini, saya tadinya mau komen, kalau setelah keputusan hukuman matinya dibacakan, sang mantan Tsar masih sempat bereaksi dengan mengungkapkan ketidakpercayaan akan keputusan itu. Sebelum akhirnya para algojo menjalankan tugas keji mereka.

        Hahaha iya sama, saya juga mikir begitu. Masih berharap kalau kisah tentang putri Anastasia itu benar. Tapi kalau melihat ukuran ruangannya dan banyaknya algojo yang mengepung, sepertinya itu gak mungkin juga ya mas.

        Teka-teki soal Anastasia ini akhirnya terjawab juga, ketika pada akhirnya pemerintah Rusia berhasil mengevakuasi dan mengidentifikasi semua sisa jenazah mereka untuk kemudian dimakamkan di … Saint Petersburg ya kalau gak salah. Saya sempat nonton rekaman acaranya di Youtube.

        Data lain yang saya dapatkan dari hasil baca-baca sih, setelah mereka dibantai di ruangan kecil tersebut, jenazah mereka masih disiram dengan cairan-cairan asam dan dibakar demi menghapus jejak.

        Tragis ya. Mengingat Tsarina Alexandrina adalah salah satu cucu Ratu Victoria dari Inggris. Sehingga pembunuhan itu tidak hanya melukai keluarga bangsawan Rusia, tapi juga keluarga bangsawan Eropa lainnya.

        Like

        • Bener juga ya, karena ga ada saksi hidup dari pihak korban, logisnya kita ga pernah tahu versi yang benar dan akurat, kecuali yang berasal dari pelaku.

          Kalau Anastia kayanya emang udah ga ada harapan, mas. Pernah nonton juga dokumentari yg ngebahas penemuan sisa-sisa jenazahnya. Itu salah satunya yang bikin para impostor Anastasia jadi gigit jari.

          Saya baru tahu kalau jenazah Romanov Family ini disiram dengan zat asam juga. Ini yang bunuh kayanya beneran pengen menghapus garis darah keturunan Romanov banget ya, sampe segitunya ngilangin jejak. Kebayang kalo salah satu ada yang survived, terus pas gede dia ngeklaim the empire throne, jalan sejarah pasti bakalan berbeda. Jadi kaya film-film 🙂

          Like

    • Err.. Anastasia itu yang bikin Fox sih. Tapi berhubung Fox udah dibeli Disney jadi ya bolehlah disebut filmnya Disney :))
      Kalau yang di versi film kan emang ada unsur fiksinya, Ad. Anastasia difilm diceritain masih hidup, faktanya ga satupun keturunan Romanov yang selamat dari pembunuhan. Mungkin cerita filmnya terinspirasi dari banyaknya orang yang ngaku-ngaku sebagai Anastasia, hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s