Picture Perfect

IMG_8960

Pernahkah Anda mendengar istilah Picture Perfect?

Istilah ini sebenarnya didasarkan pada album foto. Iya, album foto. Pernah melihat-lihat album foto bukan? Sudah terhitung jarang memang saat ini orang yang masih mencetak foto dan menyimpannya dalam album.

Biasanya, setelah menentukan foto-foto yang paling bagus, kita kemudian mencetak foto tersebut, lalu dibingkai untuk dipajang atau disimpan dalam album foto.

Coba perhatikan, tanpa kita sadari foto yang kita cetak untuk disimpan atau dipajang adalah foto-foto dari momen yang paling bagus, momen-momen yang benar-benar ingin kita kenang.

Katakanlah Anda misalnya mendokumentasikan kegiatan konser sebuah band. Maka album fotonya akan dihiasi foto-foto kemeriahan penonton, foto-foto band tersebut saat tampil, ekspresi sang vokalis saat bernyanyi, dan sebagainya. Singkatnya, semua merupakan momen-momen indah.

Contoh lainnya, perhatikan dinding rumah kita.

Foto-foto yang terpajang di sana semuanya adalah momen-momen indah. Foto pernikahan, foto keluarga, foto saat anda diwisuda, foto saat anda masih bayi tertelungkup di atas meja, dan lain sebagainya.

Semua momen indah dan bahagia.

Perfect.

Namun ada satu hal yang sebenarnya luput dari foto-foto tersebut; fakta bahwa di antara momen bahagia dan sempurna yang terpasang dalam album foto atau dipajang di dinding itu, ada momen-momen menyedihkan, saat-saat yang berat, penuh nelangsa, dan perjuangan, yang tersembunyi dari penglihatan.

Di antara foto-foto konser band, terselip kenangan akan beratnya perjuangan, usaha dan latihan yang harus mereka lakukan sebelum akhirnya tampil di panggung konser. Usaha penuh keringat dan air mata tersebut tidak terlihat sama sekali jika kita hanya mendasarkan pengamatan kita pada foto yang terpampang.

Di antara foto-foto bahagia di dinding rumah, ada saat-saat di mana pernikahan penghuninya diuji oleh masalah, ada saat-saat di mana anak yang fotonya terpasang dengan ekspresi penuh senyum sebenarnya tengah menangis dan bersedih karena berbagai hal.

Hal-hal tersebut berada ‘di antara’ momen-momen yang tertangkap kamera, tersembunyi, tidak terlihat.

Mata kita memang hanya melihat apa yang kita mau lihat.

Momen-momen tersembunyi tersebut terlalu menyedihkan untuk dilihat, sehingga mata kita menolak melihatnya.

Menolak mengakui bahwa saat-saat bahagia tidak terjadi selamanya.

Menolak percaya bahwa ada luka yang tersembunyi di antara gelak tawa.

Kehidupan kita juga seperti itu.

Saat kita memandang kehidupan orang lain, yang terlihat adalah saat-saat bahagia, momen-momen sempurna. Kita tidak melihat bahwa ada momen-momen sedih, ada kesulitan, dan ada keringat dan air mata yang tersembunyi di balik senyuman atau di balik kenyamanan yang dimiliki orang lain yang sering kali membuat kita iri.

Kita sebagai pribadi juga tentunya memiliki momen-momen tersembunyi tersebut, yang dengan beragam alasan kita sembunyikan dari penglihatan orang lain.

Tidak masalah, karena there is no such thing as perfect life.

What we need to do is living our imperfect life perfectly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s