Budaya Mengeluh

DSC03573

Kita memang ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang suka mengeluh. Panas, macet, lapar, haus, pekerjaan menumpuk, mengantuk, stres, suara bising, anak-anak yang ribut, istri yang bawel, dan banyak lagi hal lainnya menjadi penyebab mengapa kita mengeluh.

Dalam sebuah tayangan televisi saya pernah menyaksikan bahwa ada satu terapi yang pernah dilakukan oleh seseorang untuk menguji seberapa sering kita mengeluh dalam satu waktu.

Si peneliti melakukan uji coba sederhana dengan memasangkan sejumlah karet gelang di tangan kanan dan kirinya. Setiap kali ia mengeluh, karet gelang di kanan akan dipindahkan ke kiri. Sebaliknya, setiap kali ia bersyukur, maka karet gelang di kiri akan dipindahkan ke kanan. Lalu ia melakukan aktivitas seperti biasa. Ternyata, dalam tiga jam durasi percobaannya, seluruh karet gelang di tangan kanannya telah berpindah ke tangan kiri. Sementara, belum ada karet gelang kiri yang beralih ke tangan kanan. Ini menunjukkan betapa besarnya intensitas mengeluh yang ia lakukan dalam tempo tiga jam tersebut.

Mungkin kita perlu belajar mengurangi kebiasaan mengeluh dengan cara yang lebih ekstrim. Ketimbang memindahkan karet gelang, mungkin akan lebih ampuh jika setiap kali mengeluh, kita menggoreskan silet pada tangan kiri. Dalam satu hari kita bisa melihat berapa goresan silet yang ada di tangan kiri. Rasa sakit akibat menyilet tangan sendiri tentu akan mengingatkan kita untuk tidak lagi mengeluh atas hal-hal kecil di sekeliling kita. Terdengar terlalu ekstrim ya? Ya, namanya juga ide.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s