Baik-baik saja

20150410_091908

Jika ada yang bertanya pada anda, bagaimana kabar Anda? Kira-kira Anda akan menjawab apa?

Jika saya yang ditanya, saya akan menjawab “baik-baik saja”. Karena begitulah adanya. Setidaknya untuk saat ini saya bersyukur banyak aspek dalam hidup saya yang baik-baik saja. Badan sehat dan masih kuat bekerja, rejeki yang masih dilancarkan, keluarga yang sehat, dan hal-hal lainnya yang membuat mulut tak berhenti berucap syukur.

Terdengar menyenangkan? Bisa jadi, tapi tidak sepenuhnya menenangkan buat saya.

Saya sering berpikir, “Bagaimana jika semua yang baik-baik saja itu pertanda tidak baik?”

“Bagaimana jika semua hal berjalan lancar tanpa masalah, senyatanya merupakan musibah?”

“Bagaimana jika itu artinya kita diabaikan dan tidak lagi diperhatikan oleh Dia yang jadi pengatur dunia?”

Saya pernah punya seorang teman semasa kuliah dulu. Berpenampilan menarik, lahir dari keluarga berada, pintar, rajin, cerdas, akrab dengan siapa saja, dan banyak sifat baik lainnya. Singkatnya, ia tipikal yang memiliki kelebihan terlalu banyak.

Hanya saja, belakangan saya mengetahui bahwa teman saya itu tidak pernah menjalankan kewajiban ibadah agamanya sejak lama. Dan ia seolah tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut. Semua hal dalam dirinya berjalan baik, tanpa kekurangan. Semua keinginannya tercapai.

Jadi –ini asumsi saya- bisa jadi ia merasa tidak membutuhkan belas kasihan sang Pencipta.

Bukan, saya bukan hendak menjadi hakim yang memutuskan baik tidaknya manusia di sini. Bukan pula saya bermaksud menilai ibadah manusia yang sejatinya merupakan hak pribadi yang tak layak dikomentari orang lain. Saya hanya menjadikan pengalaman teman saya tadi sebagai pelajaran buat saya sendiri.

Dalam kasus seperti inilah, justru semua yang baik-baik saja itu menjadi bencana. Menjadi pertanda bahwa sebenarnya ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Jika seorang guru tidak mau lagi menegur muridnya yang bersalah di dalam kelas, bisa jadi itu artinya sang guru telah melewati batas kesabaran dan kemarahannya sehingga berujung pada sikap tidak peduli sama sekali pada murid yang bersangkutan. Mengerikan.

Maka setiap kali ada yang bertanya pada saya, bagaimana kabarnya? Saya cuma bisa menjawab “saya baik-baik saja” sambil berdoa di dalam hati “mudah-mudahan situasi yang baik-baik saja ini bukan merupakan teguran dari Yang Maha Kuasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s